Ia menilai perempuan selama ini masih berada pada posisi kedua dalam banyak aspek pembangunan, padahal persoalan yang paling sering muncul justru langsung menyentuh kehidupan perempuan di desa.

Menurut dia, berbagai isu seperti pengelolaan sumber daya alam, perlindungan air dan hutan, kedaulatan pangan, kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan orang, anak terlantar, judi online, hingga persoalan infrastruktur dasar menjadi masalah yang paling dekat dengan kehidupan perempuan.

“Isu-isu ini adalah isu penting yang selalu bersentuhan langsung dengan kaum ibu dan kaum perempuan,” ujarnya.

Karena itu, APIR mendorong lahirnya gerakan bersama perempuan desa agar suara perempuan petani tidak lagi berada di pinggir proses pembangunan.

Siti juga mengapresiasi kehadiran DPRD, pemerintah daerah, akademisi, dan aparat penegak hukum yang hadir mendengar langsung aspirasi perempuan desa.

“Tujuan utama dari pertemuan ini adalah agar lembaga pemerintah, DPRD, dan para pemangku kepentingan lainnya dapat mendengarkan masukan, saran, dan pendapat kami kelompok perempuan dalam pembangunan sumber daya perempuan di pedesaan,” katanya.