Sementara itu, Prabowo memiliki kewenangan dalam pengangkatan pejabat, pengelolaan pemerintahan, serta dukungan koalisi politik di parlemen.
Meski demikian, Akhmad menegaskan bahwa pengaruh Jokowi belum sepenuhnya hilang. Nama besar, jaringan politik, dan basis pemilih mantan presiden tersebut masih menjadi bagian penting dalam peta politik Indonesia.
“Bayang-bayang Jokowi belum hilang, karena nama besar, jaringan, dan basis pemilihnya tetap ada. Tetapi bayang-bayang itu tak lagi menentukan arah,” jelasnya.
Ia menilai, perkembangan tersebut menandai perubahan hubungan politik antara presiden yang sedang berkuasa dan pendahulunya. Dalam situasi ini, pusat pengambilan keputusan semakin bertumpu pada Istana.
Akhmad menyimpulkan, kontrak politik yang dahulu menjadi fondasi kemenangan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 masih terlihat dari luar, tetapi pengaruh dan kepentingan yang terkandung di dalamnya telah mengalami perubahan.**





Tinggalkan Balasan