Tak hanya sektor pariwisata, Konjen RRT juga menyinggung peluang ekspor komoditas lokal dari Flores dan NTT menuju pasar China. Untuk mendukung itu, pembangunan terminal kargo dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
“Produk lokal seperti kopi, hasil pertanian, hingga buah-buahan punya peluang besar masuk pasar China. Karena itu terminal kargo harus dipersiapkan,” ujar Charles.
Ia mencontohkan Bali yang telah rutin mengirim komoditas pertanian ke China dalam jumlah besar. Menurut dia, Labuan Bajo dan Flores juga memiliki potensi serupa jika didukung infrastruktur logistik memadai.
Dalam kesempatan yang sama, pihak bandara juga mengusulkan adanya pelatihan bahasa Mandarin bagi petugas pelayanan publik di bandara, pelabuhan, imigrasi, hingga aparat keamanan.
Selama ini komunikasi dengan wisatawan asing masih banyak mengandalkan aplikasi penerjemah di telepon genggam.
Menanggapi hal itu, Konjen RRT disebut mendukung penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan bahasa Mandarin. Dukungan tersebut salah satunya diwujudkan melalui peluncuran Jihan Mandarin College di Labuan Bajo.






Tinggalkan Balasan