“Ada usulan supaya toko suvenir atau tempat penjualan buku menyediakan buku tentang Labuan Bajo dan pariwisata dalam bahasa Mandarin. Orang-orang Chinese suka membaca dan ingin mengetahui budaya daerah yang mereka kunjungi,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Kepala Bandara Komodo, Ceppy Triono, juga memaparkan rencana pengembangan bandara yang akan dilakukan bertahap mulai 2027 hingga 2030.

Pengembangan tersebut mencakup perluasan terminal kedatangan internasional untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan mancanegara.

Ceppy juga menyampaikan adanya peluang pembukaan penerbangan langsung dari sejumlah negara seperti Australia dan Belanda ke Labuan Bajo. Namun untuk rute langsung dari China, masih diperlukan pengembangan infrastruktur bandara, terutama kemampuan melayani pesawat berbadan lebar atau wide body.

“Hanya saja karena penerbangan dari China membutuhkan waktu lebih dari tujuh jam, maka harus menggunakan pesawat berbadan lebar. Sementara kapasitas bandara saat ini belum memungkinkan,” kata Charles menjelaskan hasil pembicaraan tersebut.