LABUANBAJOVOICE.COM — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Manggarai Barat menjadi momentum evaluasi pembangunan daerah. Ketua DPRD Manggarai Barat, Benediktus Nurdin, menyoroti ketergantungan ekonomi daerah yang masih sangat tinggi pada sektor pariwisata.
Menurut Benediktus, pariwisata memang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Manggarai Barat, khususnya di kawasan Labuan Bajo.
Selain itu, ia juga mengapresiasi berbagai capaian pemerintah daerah dalam mendorong promosi pariwisata, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata yang berdampak pada terbukanya lapangan kerja.
“Kita harus jujur mengakui, pemerintah daerah telah bekerja keras dan berhasil menjadikan pariwisata sebagai motor ekonomi. PAD meningkat, kunjungan wisatawan bertambah, dan Manggarai Barat semakin dikenal secara nasional maupun internasional,” ujar Benediktus, Selasa (25/2/2026).
Namun demikian, politisi Partai NasDem itu mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada satu sektor menyimpan risiko besar bagi ketahanan ekonomi daerah dalam jangka panjang.
“Ekonomi Manggarai Barat saat ini sangat bergantung pada pariwisata Labuan Bajo. Ketika terjadi krisis global seperti pandemi, jumlah wisatawan langsung turun dan berdampak besar pada pendapatan masyarakat,” tambahnya.
Ia menilai, sektor-sektor strategis lain seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) belum berkembang secara optimal.
Padahal, kata dia, sektor-sektor tersebut memiliki potensi besar untuk menopang perekonomian masyarakat di luar kawasan wisata.
“Pertanian, perikanan, peternakan, dan UMKM harusnya menjadi penyangga ekonomi daerah. Sampai hari ini, pengembangannya belum maksimal dan belum menjadi kekuatan utama,” katanya.
Selain persoalan ekonomi, politisi NasDem itu juga menyoroti keterbatasan infrastruktur dasar yang masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
Beni sapaan akrab Benediktus menyebut masih ada daerah dengan akses jalan rusak, transportasi terbatas, serta kesulitan memperoleh air bersih.
“Masih ada masyarakat yang akses jalannya rusak, transportasinya terbatas, bahkan air bersih masih sulit. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah,” tegasnya.
Tak hanya itu, tekanan aktivitas pariwisata juga dinilai mulai berdampak pada lingkungan. Persoalan sampah, kualitas air, dan kerusakan kawasan pesisir menjadi tantangan nyata yang harus dikelola secara berkelanjutan.
“Pariwisata membawa manfaat ekonomi, tetapi juga menimbulkan tekanan lingkungan. Kalau tidak diantisipasi dengan baik, dampaknya bisa merusak kawasan pesisir dan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Memasuki usia 23 tahun, Beni berharap pemerintah daerah mampu merumuskan arah pembangunan yang lebih seimbang, dengan memperkuat sektor non-pariwisata, mempercepat pemerataan infrastruktur, serta memastikan pembangunan pariwisata berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan.
“Ke depan, Manggarai Barat harus memiliki ekonomi yang lebih kuat, beragam, dan berkelanjutan. Itulah tantangan kita di usia 23 tahun ini,” pungkas anggota DPRD Fraksi NasDem asal Daerah Pemilihan (Dapil) II. **





Tinggalkan Balasan