“Biasanya dia pulang duluan pakai dayung. Tapi waktu ditunggu tidak muncul, kami cari di sekitar, tidak ada,” ungkap Basir.

Delapan rekannya sempat kembali ke Kampung Papagarang dengan harapan korban sudah tiba lebih dahulu di rumah. Namun setelah dipastikan belum kembali, mereka kembali turun ke laut untuk melakukan pencarian mandiri.

Warga kemudian mengerahkan tiga hingga empat perahu nelayan untuk menyisir kawasan Loh Kerbau sambil menunggu bantuan resmi dari Tim SAR.

Peristiwa ini kembali menggambarkan tingginya risiko yang dihadapi nelayan tradisional di kawasan perairan Taman Nasional Komodo.

Selain kondisi cuaca yang cepat berubah, kawasan Selat Padar dan sekitarnya juga dikenal memiliki arus kuat dan medan laut yang ekstrem, terutama pada malam hari ketika aktivitas memancing cumi berlangsung.**