LABUANBAJOVOICE.COM – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Labuan Bajo, Adrianus Taur, menilai Festival Golo Koe tidak hanya menjadi perayaan budaya dan iman, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat perekonomian masyarakat, memperluas pasar UMKM, sekaligus merawat semangat persaudaraan di tengah keberagaman.

Pernyataan tersebut disampaikan Adrianus Taur di Labuan Bajo, Rabu, 8 Juli 2026. Menurutnya, Festival Golo Koe telah berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat, wisatawan, pelaku seni, pelaku UMKM, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat dalam semangat yang sama, yakni melestarikan budaya sekaligus membangun masa depan Manggarai Barat.

“Festival Golo Koe bukan sekadar perayaan budaya dan iman. Lebih dari itu, festival ini menjadi ruang yang menyatukan masyarakat, wisatawan, pelaku seni, pelaku UMKM, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat dalam satu semangat: merawat warisan budaya sekaligus membangun masa depan yang lebih baik,” kata Adrianus.

Ia mengatakan, kekayaan budaya Manggarai tercermin dalam setiap pertunjukan seni, musik tradisional, tenun, kuliner khas hingga hasil karya para perajin lokal.

Menurutnya, seluruh produk tersebut merupakan identitas budaya yang diwariskan para leluhur dan terus hidup melalui kreativitas masyarakat.

“Di balik setiap tarian, lantunan musik, tenunan, kuliner, dan karya para perajin, tersimpan identitas Manggarai yang tak ternilai. Semua itu merupakan warisan leluhur yang terus hidup melalui tangan-tangan kreatif masyarakat,” ujarnya.

Menurut Adrianus, bagi pelaku UMKM, Festival Golo Koe menjadi momentum untuk memperkenalkan produk-produk lokal yang lahir dari kreativitas, kearifan lokal, dan kecintaan terhadap tanah Manggarai.

Ia juga menjelaskan, wisatawan yang datang ke Festival Golo Koe tidak hanya menikmati atraksi budaya, tetapi juga mencari pengalaman yang dapat dibawa pulang melalui berbagai produk lokal khas Manggarai.

“Setiap wisatawan yang datang tidak hanya mencari keindahan sebuah festival, tetapi juga ingin membawa pulang sebuah cerita. Cerita itu hadir dalam selembar kain tenun, secangkir kopi, produk herbal, kerajinan tangan, maupun aneka kuliner khas yang mencerminkan jiwa Manggarai. Ketika mereka memilih produk lokal, sesungguhnya mereka ikut membawa pulang nilai budaya dan semangat masyarakat yang terus berkarya,” katanya.

Menurut Adrianus, keberhasilan Festival Golo Koe tidak semestinya hanya diukur dari tingginya jumlah pengunjung ataupun kemeriahan penyelenggaraan. Yang lebih penting, festival harus mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

“Namun, keberhasilan Festival Golo Koe tidak cukup diukur dari ramainya pengunjung atau megahnya penyelenggaraan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika festival mampu membuka peluang usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas pasar bagi UMKM, serta melahirkan kolaborasi yang terus berkembang bahkan setelah festival berakhir,” ungkapnya.

Selain berdampak terhadap ekonomi lokal, Adrianus menilai Festival Golo Koe juga memperlihatkan kuatnya nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakat Manggarai Barat.

“Lebih dari itu, Festival Golo Koe menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk berjalan bersama. Festival ini memperlihatkan bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan suku dapat hidup berdampingan dalam semangat saling menghormati, saling mendukung, dan bergotong royong demi menyukseskan sebuah perayaan yang menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, semangat persaudaraan terlihat dalam seluruh rangkaian kegiatan festival, mulai dari panitia, pelaku seni, pelaku UMKM, relawan, tokoh agama hingga masyarakat yang terlibat secara aktif.

“Dalam setiap rangkaian kegiatan, tampak nyata semangat persaudaraan yang tumbuh secara alami. Para panitia, pelaku seni, pelaku UMKM, relawan, tokoh agama, hingga masyarakat umum bekerja dengan tujuan yang sama. Wisatawan yang hadir pun tidak hanya menikmati kekayaan budaya Manggarai, tetapi juga merasakan hangatnya kehidupan yang penuh toleransi dan kebersamaan,” katanya.

Adrianus menegaskan bahwa pesan terbesar Festival Golo Koe adalah bagaimana budaya, iman, dan toleransi menjadi fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan.

“Inilah pesan terbesar yang diwariskan Festival Golo Koe: budaya mampu menyatukan, iman menumbuhkan kasih, dan toleransi menjadi jembatan yang menghubungkan setiap perbedaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Adrianus katakan ketika seni dihargai, budaya dilestarikan, UMKM diberdayakan, dan persaudaraan terus dirawat, maka kita tidak hanya sedang menjaga tradisi, tetapi juga membangun fondasi bagi masa depan Manggarai Barat yang damai, mandiri, dan sejahtera.

Ia berharap semangat yang dibangun melalui Festival Golo Koe tetap hidup meski rangkaian kegiatan telah selesai.

“Festival boleh usai, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan harus terus hidup dalam keseharian kita. Semangat gotong royong, penghargaan terhadap setiap karya seni, dukungan kepada UMKM lokal, serta kehidupan yang rukun dalam keberagaman merupakan modal sosial yang sangat berharga untuk membawa Manggarai Barat semakin maju,” ungkap dia.

Ia mengajak semua pihak untuk terus menjaga budaya, merawat toleransi, mendukung karya anak daerah, dan menguatkan UMKM lokal.

“Sebab, ketika budaya dan persaudaraan berjalan beriringan, kesejahteraan bukan lagi sekadar harapan, melainkan masa depan yang dapat kita bangun bersama,” tutup Adrianus. **