Sementara, Uskup Keuskupan Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dalam kesempatan yang sama mengingatkan bahwa masyarakat saat ini tidak hanya menghadapi perubahan iklim, tetapi telah memasuki fase yang oleh banyak ahli disebut sebagai kekacauan iklim (climate chaos).

“Kekacauan iklim ini bukanlah sebuah pengalaman yang ada terlalu jauh dari kita, tetapi sudah menjadi pengalaman kita setiap hari melalui kejutan-kejutan dalam bentuk bencana yang tidak dapat kita prediksi, melalui banjir, longsor, dan bentuk bencana lainnya,” jelas Uskup Regus.

Selain krisis iklim, ia juga menyoroti ancaman kelangkaan ekologis (ecological scarcity), yakni kondisi ketika daya dukung bumi semakin terbatas dalam memenuhi kebutuhan manusia.

Mengacu pada ensiklik Laudato Si’ yang diwariskan Paus Fransiskus, Uskup Regus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pertobatan ekologis melalui perubahan perilaku yang nyata.

Menurutnya, pertobatan ekologis harus diwujudkan dalam tiga tingkatan sekaligus, yakni tingkat personal dalam keluarga, tingkat komunitas melalui kolaborasi lintas kelompok dan lembaga, serta tingkat struktural melalui kebijakan yang berpihak pada perlindungan lingkungan hidup.