“Kita ingin melihat apa yang menjadi kekuatan masing-masing UP. Ada daerah yang kuat di tenunan, ada yang memiliki produk pangan lokal, kerajinan, budaya dan potensi lainnya. Potensi-potensi ini yang perlu kita dorong agar semakin berkembang dan memiliki daya saing,” jelasnya.
Fatinci juga menekankan bahwa pengembangan produk budaya harus berjalan bersama dengan upaya pelestarian budaya NTT.
Tenunan dan produk budaya lainnya, kata dia, tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan identitas serta cerita masyarakat di setiap daerah.
Selain pengembangan UMKM, DWP Provinsi NTT membuka peluang kolaborasi dengan TP PKK Provinsi NTT dan organisasi perempuan lainnya. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas dampak program pemberdayaan perempuan, keluarga, ekonomi, sosial dan budaya.
“Banyak hal yang bisa kita kerjakan bersama. Kita tidak ingin berjalan sendiri-sendiri. DWP, TP PKK dan organisasi perempuan lainnya memiliki ruang untuk saling mendukung dan berkolaborasi dalam membangun keluarga dan masyarakat NTT,” tutur Fatinci.





Tinggalkan Balasan