“Ini bukan hanya atraksi wisata, tetapi juga sarana pelestarian identitas budaya yang sangat penting untuk terus dijaga dan dikembangkan,” tambahnya.
Menurut Hariyanto, model pengembangan seperti Weekend at Parapuar penting bagi masa depan Labuan Bajo. Selama ini kawasan tersebut dikenal luas sebagai pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo.
Namun ke depan, tambah dia, wisata darat berbasis budaya dan komunitas perlu diperkuat agar manfaat ekonomi lebih merata bagi masyarakat lokal.
Kegiatan WAP Vol. 3 menampilkan ragam seni budaya Manggarai, mulai dari Tari Tiba Meka, Molas Congka Sae, Rangkuk Alu, Tari Dende, hingga pertunjukan musik tradisional Takitu. Sekitar 50 pengunjung hadir menikmati suasana sore di kawasan Parapuar.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyebut program tersebut akan terus dikembangkan sebagai panggung kreatif bagi komunitas lokal dan sarana promosi budaya daerah.
“Kami ingin Weekend at Parapuar menjadi panggung bagi komunitas lokal untuk berekspresi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Manggarai kepada masyarakat luas,” ujarnya.






Tinggalkan Balasan