LABUANBAJOVOICE.COM – Puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Manggarai terlibat dalam aksi penanaman bambu alam di kawasan mata air Tengku Po Kumba, Kelurahan Satar Tacik, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 13 Juni 2026.

Kegiatan bertema “Bersama Menanam Bambu, Menghidupkan Mata Air dan Menjaga Masa Depan Bumi” itu digelar bersama komunitas penggerak muda MOTAMA (Molas Tana Manggarai) sebagai bagian dari gerakan pelestarian lingkungan dan konservasi sumber daya air.

Program tersebut merupakan inisiatif yang didukung Yayasan PLAN International Indonesia melalui pendanaan IKI (International Climate Initiative) Small Grants Jerman.

Fokus kegiatan diarahkan pada perlindungan kawasan mata air yang kini menghadapi ancaman akibat perubahan iklim dan berkurangnya tutupan vegetasi.

Bambu dipilih sebagai tanaman konservasi karena memiliki kemampuan menyerap sekaligus menyimpan air dalam jumlah besar. Karakteristik ini menjadikan bambu sebagai salah satu vegetasi yang efektif dalam menjaga debit air tanah serta mempertahankan keberlangsungan sumber mata air bagi masyarakat sekitar.

Keterlibatan para siswa dalam kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk partisipasi dalam aksi lingkungan, tetapi juga sarana pendidikan karakter yang menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.

Para peserta diajak memahami keterkaitan antara kelestarian alam, ketersediaan air, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Kepala MAN 2 Manggarai, Demasere, S.Pd, menegaskan bahwa kegiatan penanaman bambu tersebut sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama melalui Ekoteologi yang masuk dalam Asta Protas Kementerian Agama.

“Kegiatan ini bukan sekadar menanam bambu, tetapi juga menanam kesadaran kepada peserta didik tentang pentingnya menjaga alam sebagai amanah Tuhan. Melibatkan siswa dalam kegiatan seperti ini merupakan bagian dari pembiasaan karakter peduli lingkungan yang terus dikembangkan di madrasah,” ujar Demasere.

Menurutnya, lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas terhadap persoalan sosial dan lingkungan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa menjaga mata air berarti menjaga kehidupan. Nilai-nilai inilah yang menjadi bagian dari implementasi Ekoteologi di lingkungan madrasah,” tambahnya.

Penanaman bambu di kawasan Tengku Po Kumba menjadi salah satu langkah konkret dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan masyarakat, terutama ancaman kekeringan dan menurunnya ketersediaan air bersih.

Melalui kolaborasi antara MAN 2 Manggarai, MOTAMA, Yayasan PLAN International Indonesia, dan IKI Small Grants Jerman, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat gerakan konservasi lingkungan berbasis masyarakat.

Selain menjaga keberlanjutan sumber air, aksi tersebut juga menjadi contoh nyata bagaimana generasi muda dapat mengambil peran dalam upaya pelestarian lingkungan.

Semangat gotong royong yang terbangun dalam kegiatan ini diharapkan mampu menginspirasi lebih banyak kalangan untuk terlibat dalam aksi-aksi nyata menghadapi tantangan perubahan iklim di Manggarai.

Dengan semakin banyak pihak yang peduli terhadap kelestarian sumber daya alam, kawasan mata air Tengku Po Kumba diharapkan tetap terjaga dan mampu menopang kebutuhan air masyarakat untuk jangka panjang, sekaligus menjadi warisan lingkungan bagi generasi mendatang.**