Rofinus menyebut peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi penyelenggara dan seluruh peserta.
“Peristiwa tersebut tentu menjadi perhatian dan evaluasi bagi kami sebagai panitia. Bagi panitia, kejadian itu menjadi pembelajaran bahwa kompetisi membutuhkan komitmen bersama untuk menjaga keamanan, ketertiban, sportivitas, dan penghargaan terhadap aturan,” ujarnya.
Ia memahami setiap klub memiliki keinginan untuk memenangkan pertandingan. Namun, ambisi tersebut harus tetap berada dalam koridor sportivitas.
“Kami memahami bahwa setiap klub masing-masing ingin menang, setiap pemain ingin memberikan yang terbaik. Namun kita harus selalu ingat bahwa sehebat apapun sebuah pertandingan, pertandingan tetap harus berada di bawah nilai sportivitas dan persaudaraan,” katanya.
Rofinus mengatakan penyelenggaraan PSSI Cup II memberikan pengalaman bagi panitia dalam menghadapi tekanan, kritik, dinamika pertandingan, hingga penyelesaian berbagai persoalan.
“Sepuluh perjalanan ini telah mengajarkan banyak hal kepada kami tentang kompetisi, tanggung jawab, tekanan, caci maki, kritik, menyelesaikan persoalan, dan yang paling penting tentang menjaga persaudaraan di tengah perbedaan,” ujarnya.





Tinggalkan Balasan