Amran juga menceritakan interaksinya dengan warga pengungsi yang menerima bantuan. Menurut dia, situasi di lapangan terkadang menghadirkan persoalan sederhana yang harus langsung diselesaikan.

“Tadi, ada yang menarik. Ada berteriak satu orang, ‘Saya belum dapat bagian dari kemarin!’, ‘Ini berapa?’, ‘Ada 15 kilo, Pak’, ‘Pegang ini nih.’ Satu karung. ‘Pak, saya tidak bisa bawa pulang.’ ‘Nah itu masalah Bapak itu. Masa tidak bisa bawa pulang? Sudah saya kasih satu karung.’” ujarnya.

Ia mengatakan pengalaman tersebut membuat dirinya memahami kondisi psikologis masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

“Jadi lucu-lucu, tapi kita harus terima. Karena pernah kami secara pribadi pernah mengalami hal serupa. Kami ya kena bencana, kami, Saya di bawah tenda-tenda. Tidur di bawah pohon, tapi ada tenda-tenda kecil.” ujarnya.

Amran memastikan ketersediaan beras untuk kebutuhan pengungsi di wilayah terdampak masih dalam kondisi aman.

Ia menyebut pemerintah memperkirakan terdapat sekitar 34.000 pengungsi dengan kebutuhan beras sekitar 300 ton per bulan.