LABUANBAJOVOICE.COM — Pengalaman wisatawan menjadi salah satu perhatian dalam penguatan sumber daya manusia pariwisata di Labuan Bajo. Pemerintah menilai teknologi digital dapat membantu wisatawan menemukan destinasi, tetapi kualitas pelayanan di lapangan menjadi bagian penting dalam mendorong kunjungan kembali.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Petrus A. Rasyid, dalam kegiatan Upskilling Pelatihan Berbasis Kompetensi dan Sertifikasi Kompetensi Kerja dengan Skema Uji Pemandu Wisata Snorkeling Level III, Selasa (22/9/2026) di Kantor BPOLBF.
Kegiatan yang berlangsung 22–24 September 2026 tersebut diikuti 40 pelaku dan pemandu wisata.
Pelatihan dilaksanakan Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan melalui Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Industri Kementerian Pariwisata bersama Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pramuwisata Indonesia, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Rasyid mengatakan teknologi dan berbagai platform digital telah membantu memperkenalkan serta memudahkan akses wisatawan menuju Labuan Bajo. Namun, pengalaman yang diperoleh wisatawan selama berada di destinasi tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi.
“Yang membuat orang datang ke sini itu banyak. Teknologi digital, misalnya, membuat orang bisa datang ke Labuan Bajo. Tetapi yang membuat orang mau datang kembali ke Labuan Bajo adalah pengalaman. Ada sentuhan personal dan pelayanan dari Bapak dan Ibu semua yang tidak dapat digantikan oleh teknologi,” ungkapnya.
Menurut Rasyid, sejumlah platform dan layanan digital, mulai dari Si Ora, Gendang Mabar, hingga platform pemesanan perjalanan seperti Tiket.com, dapat membantu menarik wisatawan berkunjung.
Namun, pelayanan yang diterima wisatawan selama berada di destinasi menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan.
“Kalau teknologi kita bagus, tetapi kualitas pelayanan kita tidak cukup bagus, jangan berharap orang mau datang kembali ke Labuan Bajo.” tegas Rasyid.
Ia mengatakan data juga menunjukkan adanya indikasi wisatawan untuk kembali mengunjungi Labuan Bajo. Kualitas pelayanan menjadi salah satu variabel yang berkaitan dengan pengalaman tersebut.
“Data juga menunjukkan bahwa indikasi wisatawan untuk datang kembali ke Labuan Bajo cukup besar, dan salah satu variabel penentunya adalah pelayanan, yaitu kualitas pelayanan,” katanya.
Penguatan kualitas pelayanan tersebut menjadi salah satu tujuan pelatihan bagi pemandu wisata snorkeling yang berlangsung selama tiga hari.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Martini M. Paham, mengatakan aspek keamanan menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas pariwisata dan kepercayaan wisatawan.
”Keamanan adalah fondasi dari kualitas pariwisata. Pariwisata yang maju adalah pariwisata yang aman. Tanpa rasa aman, tidak akan ada kepercayaan wisatawan. Semua itu tergantung dari pengalaman wisatawan, dan yang membuat mereka kembali lagi adalah kepercayaan dan rasa aman yang dihadirkan oleh teman-teman semua,” ujar Martini saat membuka kegiatan pelatihan.
Martini juga mengingatkan peserta agar pelatihan dapat menjadi bekal untuk menghadapi berbagai situasi di lapangan.
“Jadikan pelatihan ini sebagai bekal kita semua dengan memastikan bahwa setiap individu dapat mengidentifikasi risiko, mengedukasi wisatawan dengan tegas dan santun, serta melakukan penanganan darurat dengan cepat dan tepat,” lanjutnya.
Sementara itu, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy Marpaung, menilai pemandu memiliki posisi penting dalam membentuk pengalaman wisatawan ketika melakukan aktivitas wisata.
“Pemandu wisata merupakan bagian penting dari pengalaman wisatawan.” ujar Andy.
Menurut Andhy, kompetensi pemandu tidak berhenti pada kemampuan teknis. Pemandu juga perlu memahami kondisi wisatawan, memberikan pelayanan, mengenali potensi risiko, serta mampu mengambil tindakan ketika menghadapi keadaan darurat.
Karena itu, lanjut Andy, kompetensi tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana memberikan pelayanan yang baik, memahami kondisi wisatawan, mengenali potensi risiko, serta mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat, dan ini hal dapat didukung oleh tenaga berkompetensi yang tersertifikasi.
Penguatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan sertifikasi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata Labuan Bajo yang berkualitas dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menghadirkan John E. Sidjabat, Founder & Managing Director Global Dive Center Indonesia, dan Marselinus Betong, Ketua Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM), sebagai narasumber.
Selain itu, kegiatan dihadiri Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Industri, Faisal, secara daring melalui Zoom, serta Ketua Tim Kerja Pelatihan Berbasis Kompetensi Kementerian Pariwisata, Andi Marlina.
Peserta selanjutnya diarahkan mengikuti sertifikasi kompetensi kerja dengan Skema Uji Pemandu Wisata Snorkeling.
Penguatan kompetensi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis pemandu, tetapi juga memperkuat kualitas interaksi dengan wisatawan, pelayanan, keselamatan, dan pengalaman selama melakukan aktivitas wisata di Labuan Bajo.**





Tinggalkan Balasan