LABUANBAJOVOICE.COM — Pembukaan Turnamen PSSI Cup II Manggarai Barat 2026 di Stadion Ora Flobamorata, Sabtu (8/8/2026) sore, tak hanya menjadi panggung kompetisi sepak bola usia muda. Momentum tersebut juga melahirkan gagasan untuk mengubah nama stadion menjadi Stadion Komodo.
Usulan itu disampaikan Ketua PSSI Manggarai Barat, Marianus Yono Jehanu, dalam sambutannya di hadapan Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng, jajaran Forkopimda, panitia penyelenggara, peserta turnamen, serta masyarakat yang hadir.
Yono menilai nama Komodo memiliki nilai strategis karena merupakan identitas yang telah melekat kuat dengan Labuan Bajo dan Manggarai Barat di mata dunia.
Menurut dia, penggunaan nama Stadion Komodo bukan semata-mata berkaitan dengan perubahan administrasi atau penamaan fasilitas olahraga. Lebih jauh, nama tersebut dinilai dapat memperkuat keterhubungan antara olahraga, pariwisata, dan identitas daerah.
“Besar harapan kami, nama stadion ini mungkin ke depan kemudian disesuaikan,” ujar Yono dalam sambutannya.
Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng merespons positif gagasan tersebut. Ia menyebut usulan dari PSSI dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah untuk dibahas lebih lanjut.
“Kalau disepakati, kenapa tidak?” kata Yulianus.
Namun, Yulianus menegaskan perubahan nama fasilitas milik daerah tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan usulan dalam forum pembukaan turnamen.
Ia meminta PSSI Manggarai Barat menyampaikan usulan tersebut secara resmi kepada pemerintah daerah. Selanjutnya, wacana perubahan nama dapat dibahas melalui mekanisme pemerintahan, termasuk bersama DPRD Manggarai Barat.
Dengan demikian, usulan Stadion Komodo masih berada pada tahap gagasan dan belum menjadi keputusan resmi pemerintah daerah.
Di luar wacana perubahan nama stadion, Turnamen PSSI Cup II Manggarai Barat 2026 memiliki tujuan utama sebagai ruang pembinaan dan pencarian bibit pesepak bola muda.
Turnamen tahun ini diikuti 27 tim dengan pemain kelahiran 2004 hingga 2007.
Ketua PSSI Manggarai Barat Marianus Yono Jehanu mengatakan kompetisi tersebut dirancang untuk melihat sekaligus mengembangkan potensi pemain muda dari berbagai wilayah di Manggarai Barat.
“Ajang PSSI yang kedua ini untuk menggali potensi anak-anak muda yang ada di Kabupaten Manggarai Barat,” tutur Yono.
Untuk memastikan pemain potensial tidak berhenti pada kompetisi tingkat kabupaten, PSSI Manggarai Barat juga menerjunkan tim scouting atau pemandu bakat.
Pemain yang dinilai memiliki kemampuan dan potensi akan dipantau serta diseleksi untuk mendapatkan kesempatan memperkuat Manggarai Barat dalam kompetisi sepak bola tingkat provinsi maupun regional.
Langkah tersebut membuat PSSI Cup II tidak hanya berorientasi pada perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi bagian dari proses regenerasi pemain sepak bola daerah.
Ketua Panitia PSSI Cup II Manggarai Barat 2026, Ahyar Abadi, melaporkan kebutuhan anggaran penyelenggaraan turnamen mencapai sekitar Rp375 juta.
Namun, hingga pertandingan pembukaan digelar, panitia baru mengantongi sekitar 35 persen dari total kebutuhan anggaran.
Sementara itu, sekitar 65 persen kebutuhan anggaran lainnya masih akan dihimpun selama turnamen berlangsung melalui dukungan sponsor, biaya pendaftaran peserta, serta donatur.
Kondisi tersebut tidak mengurangi komitmen panitia dalam memberikan penghargaan kepada tim dan pemain yang berprestasi.
Total hadiah yang disiapkan mencapai lebih dari Rp110 juta.
Rinciannya, juara pertama memperoleh Rp50 juta, juara kedua Rp30 juta, juara ketiga Rp20 juta, dan juara keempat Rp10 juta.
Selain hadiah untuk tim, panitia juga menyediakan penghargaan masing-masing Rp5 juta untuk pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak atau top scorer.
Kehadiran turnamen juga membawa dampak di luar lapangan. Ratusan masyarakat yang datang menyaksikan pertandingan menciptakan peluang ekonomi bagi pelaku UMKM yang berjualan di sekitar kawasan stadion.
Lapak makanan, minuman, serta berbagai kebutuhan pengunjung menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang tumbuh bersamaan dengan pelaksanaan pertandingan.
Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng mengapresiasi keterlibatan pelaku UMKM dalam turnamen tersebut.
Menurut dia, penyelenggaraan kegiatan olahraga yang mampu menghadirkan kerumunan masyarakat sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha lokal merupakan bagian dari konsep sport tourism yang relevan dikembangkan di Labuan Bajo.
“Jadi kita sambil berolahraga, ekonomi rakyat juga berjalan,” pungkas Yulianus.
Dengan demikian, PSSI Cup II Manggarai Barat 2026 tidak hanya menjadi arena perebutan prestasi sepak bola. Turnamen ini juga memperlihatkan tiga agenda yang dapat berjalan beriringan, yakni pembinaan talenta muda, penguatan identitas daerah, dan pergerakan ekonomi masyarakat.
Sementara usulan perubahan nama Stadion Ora Flobamorata menjadi Stadion Komodo kini menunggu proses formal pemerintah daerah.
Jika kelak disepakati, perubahan tersebut berpotensi menjadikan fasilitas olahraga itu semakin lekat dengan identitas Komodo yang menjadi salah satu simbol utama Labuan Bajo dan Manggarai Barat.**





Tinggalkan Balasan