LABUANBAJOVOICE.COM – Tingginya aktivitas pariwisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, menjadi salah satu perhatian dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan, termasuk beras.

Sebagai daerah pariwisata super prioritas, kebutuhan beras di Manggarai Barat tidak hanya berkaitan dengan konsumsi rumah tangga, tetapi juga aktivitas ekonomi yang melibatkan sektor perhotelan, restoran, dan berbagai usaha pariwisata.

Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Labuan Bajo, Karyudi, menjelaskan bahwa peran Bulog dalam menjaga ketersediaan beras memiliki segmentasi tersendiri, terutama melalui Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Menurut dia, mekanisme pengelolaan stok Bulog berbeda dengan kebutuhan beras pada segmen pasar komersial.

“Jadi, kalau kita kan sifatnya CBP (Cadangan Beras Pemerintah) di mana penugasannya itu menjaga kestabilan ketersediaan.” jelasnya, Senin (2/11/2026).

Karyudi mengatakan, apabila pengadaan beras di suatu wilayah dinilai belum mencukupi kebutuhan, Bulog dapat melakukan pemerataan stok melalui mekanisme penugasan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ketersediaan beras, terutama ketika terjadi kekurangan pasokan di daerah tertentu.

Selain menjaga ketersediaan, Bulog juga memiliki instrumen intervensi pasar apabila terjadi kenaikan harga beras.

Karyudi menjelaskan, beras cadangan pemerintah dapat dikeluarkan melalui program Operasi Pasar (OP) atau mekanisme penyaluran dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPM), sebagaimana disampaikan dalam keterangannya.

“Pada saat nanti harga tinggi atau apa, baru kita keluarkan dalam bentuk OP atau dengan HPM seperti itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, mekanisme pemerataan stok akan dilakukan apabila pengadaan beras yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan wilayah.

Dalam konteks Manggarai Barat, Bulog saat ini memiliki stok sekitar 1.312 ton yang tersimpan di dua gudang, yakni Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, dan Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor.

Dari jumlah tersebut, sekitar 800 ton berada di gudang Tangge, sedangkan sisanya tersimpan di gudang Batu Cermin.

Untuk memenuhi kebutuhan stok, Bulog juga mengandalkan pengadaan dari wilayah lokal serta pasokan luar daerah berdasarkan penugasan kantor wilayah maupun pemerintah pusat.

Sepanjang 2026, sekitar 500 ton beras telah didatangkan dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selatan.

Sementara itu, pengadaan dari wilayah Manggarai Barat telah mencapai hampir 1.000 ton sejak Januari hingga 2 November 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi Bulog dalam menjaga ketersediaan beras di Manggarai Barat tidak hanya bertumpu pada satu sumber pasokan.

Di tengah perkembangan sektor pariwisata Labuan Bajo, keberadaan cadangan beras pemerintah dan mekanisme pemerataan stok menjadi instrumen penting untuk menjaga ketersediaan pangan serta mengantisipasi gejolak harga.

Meski demikian, pengelolaan pasokan tetap perlu memperhatikan perkembangan kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah agar stabilitas pangan dapat terjaga.**