Menurutnya, prinsip dasar dalam menentukan anggota AHWA harus tetap berpijak pada kualitas keulamaan, kedalaman ilmu, integritas, serta kebijaksanaan para tokoh yang akan dipercaya menjaga arah organisasi.

Karena itu, ia mengingatkan agar seluruh peserta Munas dan Konbes lebih mengedepankan kepentingan jam’iyah dibanding kepentingan kelompok maupun daerah.

Ajhar juga menegaskan bahwa para masyayikh dan kiai sepuh selama ini memiliki posisi penting sebagai penjaga nilai-nilai moral Nahdlatul Ulama. Meskipun tidak seluruhnya berada dalam struktur formal organisasi, pengaruh mereka tetap kuat karena berakar pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan dengan warga nahdliyin.

“Apalagi seruan ini menjadi catatan keras untuk bagaimana mempertimbangkan kepentingan yang lebih besar dari tujuan kelompok tertentu,” pintanya.

Dalam pernyataannya, Ajhar menyebut sejumlah tokoh ulama yang menurutnya memiliki pandangan jernih dalam melihat perkembangan organisasi saat ini.

Mereka antara lain KH Nurul Huda Djazuli, KH Said Aqil Siradj, KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Mansyur, KH Kafabih Mahrus, KH R.M. Kholil As’ad, KH Ubab Maemun, KH Ali Akbar Marbun, KH Ubaidillah Shodaqoh, KH Ali Cholil, KH Asep Saifuddin Chalim, KH Satibi Hambali, dan KH Masud Masduk.