LABUANBAJOVOICE.COM — Gempa bumi bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah laut di utara Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu, 23 September 2026, pukul 09.02.44 WIB. Berdasarkan informasi resmi BMKG, pusat gempa berada pada koordinat 8,21 derajat Lintang Selatan dan 120,61 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 9 kilometer.1

BMKG mencatat episenter gempa berada di laut, sekitar 48 kilometer sebelah utara Ruteng. Peristiwa tersebut masuk dalam kategori gempa bumi dirasakan.

Hasil pengukuran peralatan akselerometer BMKG menunjukkan intensitas guncangan mencapai IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di tiga stasiun, yaitu Stasiun Meteorologi Ruteng, Langke Rembong di Manggarai, dan Kuwus di Manggarai Barat.

Skala IV MMI berarti guncangan pada umumnya dirasakan di dalam rumah. Pada intensitas ini, pintu atau jendela dapat bergetar dan benda-benda yang tergantung mungkin ikut bergerak.

Namun, tingkat dampak di setiap lokasi dapat berbeda bergantung pada kondisi bangunan, jarak dari episenter, serta karakteristik tanah.

Guncangan juga tercatat pada intensitas III MMI di Wera, Bima. Sementara itu, Lembor dan Labuan Bajo di Manggarai Barat, Bajawa di Ngada, serta Komodo tercatat pada intensitas II MMI.

Data pengukuran BMKG mencatat jarak stasiun dari episenter sekitar 45,51 kilometer di Ruteng, 45,88 kilometer di Langke Rembong, dan 51,28 kilometer di Kuwus.

Stasiun Lembor berjarak 73,31 kilometer, sedangkan Stasiun Meteorologi Labuan Bajo berjarak 85,28 kilometer dari pusat gempa.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.

“Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi.” tulis BMKG, melalui laman InaTEWS, 23 September 2026.

Hingga informasi pada laman InaTEWS tersebut diterbitkan, tidak terdapat uraian rinci mengenai kerusakan bangunan maupun korban akibat gempa ini.

Karena itu, informasi mengenai dampak di lapangan tetap perlu menunggu laporan resmi dari pemerintah daerah, petugas terkait, atau hasil asesmen lanjutan.

Masyarakat disarankan memeriksa kondisi bangunan setelah guncangan, menjauhi bagian bangunan yang retak atau berpotensi runtuh, serta mengikuti informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah.

Warga juga perlu memastikan jalur evakuasi dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.**