LABUANBAJOVOICE.COM – Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), meninggalkan luka mendalam bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Salah satunya dialami Stefanus Mandut, warga Rentung, Desa Belang Turi, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Rumah miliknya runtuh total setelah diguncang gempa pada Sabtu pagi.

Sebagai seorang petani kebun, Stefanus selama ini menggantungkan kehidupan dari hasil bumi. Ia juga tinggal seorang diri di rumah tersebut.

Saat gempa terjadi, Stefanus berada di dalam rumah. Ia menyadari kondisi semakin berbahaya ketika bagian bangunan mulai runtuh.

“Tidak ada dalam pikiran saya peristiwa ini. Saat kejadian saya berhasil melarikan diri dari dalam kamar melalui dapur kecil saya,” kata Stefanus dalam keterangan pers, Sabtu (22/8/2026).

Rumah yang dibangunnya sekitar empat tahun lalu itu bukan sekadar tempat tinggal. Bangunan tersebut merupakan hasil perjuangan Stefanus mengumpulkan penghasilan sebagai petani, ditambah dukungan pemerintah.

“Rumah ini sudah dibangun kurang lebih 4 tahun lalu,” kata Stefanus.

Namun, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung itu runtuh hanya dalam waktu singkat akibat guncangan gempa.

“Rumah utuh itu pun runtuh sekejap, saya menahan air mata. Saya seperti orang kehilangan arah,” lanjutnya.

Rumah berdinding batu bata tersebut merupakan salah satu rumah yang dibangun dengan bantuan pemerintah.

Stefanus mengatakan, saat pembangunan rumah itu, pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp8 juta. Namun, dana tersebut menurutnya belum mencukupi seluruh kebutuhan pembangunan.

Untuk menutupi kekurangan biaya, Stefanus terpaksa menjual sebidang tanah miliknya.

“Memang rumah ini dibangun ada campur tangan pemerintah. Saat itu total bantuannya 8 juta. Tentu tidak cukup, saya pun menjual sebidang tanah, sehingga rumah ini bisa dibangun kokoh,” kata Stefanus.

Karena itu, runtuhnya rumah tersebut bukan hanya berarti kehilangan bangunan. Bagi Stefanus, kejadian itu juga berarti hilangnya hasil perjuangan selama bertahun-tahun untuk memiliki tempat tinggal yang layak.

Pasca-gempa, Stefanus mengatakan rumahnya telah didata oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Belang Turi sebagai salah satu bangunan terdampak bencana.

“Benar rumah saya ini sudah di data sebagai korban akibat gempa oleh Pemdes,” ujarnya.

Namun, hingga Sabtu (22/8/2026), Stefanus mengaku belum menerima bantuan resmi dari pemerintah di tingkat yang lebih tinggi.

Menurut dia, bantuan yang telah diterima setelah rumahnya runtuh berupa sembako dari PT Pupuk Indonesia.

“Usai kejadian saya mendapat bantuan sembako dari PT Pupuk Indonesia. Untuk bantuan resmi dari Pemerintah belum sama sekali. Jangankan bantuan, datang untuk melihat saja tidak ada, kecuali Pemdes yang telah hadir mendokumentasi keadaan rumah ini,” jelasnya.

Stefanus berharap pendataan yang telah dilakukan pemerintah desa dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat.

Ia tidak hanya berharap bantuan material, tetapi juga kehadiran pemerintah untuk melihat langsung kondisi warga yang rumahnya rusak atau runtuh akibat gempa.

“Semoga pemerintah Kecamatan sampai Pusat melihat laporan keadaan rumah saya dan harapannya mereka hadir melihatnya, seperti di daerah-daerah lain. Tolonglah perhati juga kami,” harapnya.

Selain Stefanus, warga lainnya, Bonefasius Ito, juga disebut mengaku belum tersentuh bantuan resmi pemerintah.

“Perhatian pemerintah memberi warna tersendiri. Hingga saat ini kami belum tersentuh bantuan resmi pemerintah. Kami juga korban seperti di daerah lain,” tutup Ito.**