Festival yang semula dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 itu dilaksanakan selama lima hari. Puncak acara pada 15 Agustus dibatalkan menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,7.

Meski menghadapi penyesuaian jadwal, festival tetap melibatkan 375 tenaga kerja lokal, 883 pelaku seni budaya, dan 173 tenant komersial yang seluruhnya merupakan UMKM lokal. Selama lima hari, jumlah pengunjung tercatat sekitar 45.000 orang.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan festival budaya dapat berjalan beriringan dengan upaya mitigasi lingkungan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa langkah pengurangan dampak lingkungan tidak berhenti pada penanaman pohon dan penghitungan emisi, tetapi diwujudkan dalam sistem pengelolaan sampah dan pemantauan lingkungan yang terukur.

Dengan evaluasi yang konsisten serta kolaborasi pemerintah, penyelenggara, pelaku usaha, komunitas budaya, dan pengunjung, Festival Golo Koe diharapkan semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus memperkuat pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo dan Flores.**