LABUANBAJOVOICE.COM – Festival Golo Koe 2026 mencatat total emisi karbon sebesar 26.536,70 kilogram karbon dioksida ekuivalen (kgCO₂e) selama penyelenggaraan. Sebagai bagian dari upaya mitigasi dampak lingkungan, sebanyak 603 pohon ditanam dengan estimasi stok karbon 58.926,65 kgCO₂e selama masa hidup yang diperhitungkan dalam asesmen.

Hasil tersebut disampaikan dalam Laporan Analisis Dampak Penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026 yang dipaparkan secara daring pada Senin (12/10/2026).

Analisis melibatkan panitia festival, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), dan Kementerian Pariwisata.

Pengukuran emisi karbon dilakukan melalui kolaborasi Jejakin, Kementerian Pariwisata, BPOLBF, dan panitia Festival Golo Koe.

Jejakin merupakan perusahaan teknologi iklim yang menyediakan solusi pengukuran emisi karbon dan pemantauan dampak aksi lingkungan, termasuk penanaman serta pemantauan pohon.

Berdasarkan hasil asesmen, total emisi selama penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026 mencapai 26.536,70 kgCO₂e.

Sementara itu, penanaman 603 pohon menghasilkan estimasi total stok karbon sebesar 58.926,65 kgCO₂e. Berdasarkan perhitungan dalam laporan, nilai tersebut melampaui total emisi festival dengan estimasi surplus sebesar 32.389,95 kgCO₂e selama masa hidup delapan tahun.

Capaian tersebut menjadi indikasi positif dari upaya mitigasi dampak lingkungan yang dilakukan dalam rangkaian festival.

Namun, angka stok karbon yang diproyeksikan selama masa hidup pohon perlu dipahami sesuai metode dan asumsi yang digunakan dalam asesmen.

Penanaman pohon merupakan salah satu langkah mitigasi, tetapi tidak serta-merta menghilangkan seluruh dampak lingkungan dari penyelenggaraan suatu kegiatan.

Keberhasilan upaya tersebut juga bergantung pada pemeliharaan pohon, tingkat kelangsungan hidup tanaman, serta pemantauan penyerapan karbon dalam jangka panjang.

Karena itu, pengukuran emisi dan penanaman pohon perlu diikuti langkah pengelolaan lingkungan yang konsisten selama persiapan, pelaksanaan, hingga setelah festival selesai.

Ketua Panitia Festival Golo Koe, Romo Ivan Selman, mengatakan laporan analisis dampak menjadi bahan evaluasi penting bagi panitia untuk memperbaiki penyelenggaraan festival pada tahun-tahun mendatang.

“Laporan ini menjadi catatan penting bagi kami sebagai panitia untuk mengevaluasi penyelenggaraan Festival Golo Koe ke depan. Selain mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik, kami juga perlu memperbaiki sejumlah aspek, terutama pengelolaan sampah,” ujar Romo Ivan.

Ia berharap pengelolaan sampah pada penyelenggaraan berikutnya dapat direncanakan secara lebih baik dengan melibatkan seluruh pihak, mulai dari panitia, tenant, peserta, hingga pengunjung.

Evaluasi tersebut menjadi penting karena dampak lingkungan sebuah festival tidak hanya berkaitan dengan emisi karbon.

Volume sampah, penggunaan material sekali pakai, pemilahan sampah, dan pengelolaan limbah setelah kegiatan juga perlu mendapat perhatian.

Pelibatan tenant dan pengunjung dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Perencanaan yang jelas, fasilitas pemilahan sampah yang memadai, serta pembagian tanggung jawab antarpihak berpotensi membantu mengurangi beban lingkungan selama kegiatan berlangsung.

Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menilai analisis dampak diperlukan untuk memahami manfaat festival sekaligus menentukan bagian yang perlu diperbaiki.

“Festival berbasis budaya seperti Festival Golo Koe memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat bagi daerah, tidak hanya melalui aktivitas ekonomi dan kunjungan wisatawan, tetapi juga melalui pelestarian budaya serta keterlibatan masyarakat lokal,” kata Andy, Jum’at (16/10/2026).

Ia menambahkan, pengukuran dampak menjadi dasar agar penyelenggaraan event ke depan semakin terarah, memiliki perencanaan lebih baik, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat serta destinasi pariwisata Labuan Bajo dan Flores.

Festival Golo Koe 2026 merupakan salah satu agenda Karisma Event Nusantara (KEN) yang mengangkat kekayaan budaya, tradisi, dan religiusitas masyarakat Manggarai.

Festival yang semula dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 itu dilaksanakan selama lima hari. Puncak acara pada 15 Agustus dibatalkan menyusul gempa bumi bermagnitudo 7,7.

Meski menghadapi penyesuaian jadwal, festival tetap melibatkan 375 tenaga kerja lokal, 883 pelaku seni budaya, dan 173 tenant komersial yang seluruhnya merupakan UMKM lokal. Selama lima hari, jumlah pengunjung tercatat sekitar 45.000 orang.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan festival budaya dapat berjalan beriringan dengan upaya mitigasi lingkungan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa langkah pengurangan dampak lingkungan tidak berhenti pada penanaman pohon dan penghitungan emisi, tetapi diwujudkan dalam sistem pengelolaan sampah dan pemantauan lingkungan yang terukur.

Dengan evaluasi yang konsisten serta kolaborasi pemerintah, penyelenggara, pelaku usaha, komunitas budaya, dan pengunjung, Festival Golo Koe diharapkan semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus memperkuat pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo dan Flores.**