Lembajo
Trending

Dua Peristiwa Kecelakaan Kapal Wisata Bulan Agustus 2024 di Labuan Bajo, BMKG telah Terbitkan Informasi Cuaca dan Gelombang Sebelumnya

Kapal cepat (speedboat) Refiero tenggelam tanggal 1 Agustus 2024, selang seminggu, tanggal 8 Agustus 2024 Kapal Pinisi Monalisa I tenggelam

LABUANBAJOVOICE.COM | Telah terjadi dua peristiwa kecelakaan kapal wisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di awal bulan Agustus 2024.

Kejadian pertama itu terjadi pada Kamis, 1 Agustus 2024 lalu menimpah kapal cepat (speedboat) Refiero mengalami kecelakaan terbalik hingga tenggelam di perairan Long Pink Beach, Pulau Padar, Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Rombongan yang ada didalam kapal cepat tersebut berjumlah 16 orang, dan itu termasuk tour guide wisata serta awak kapal.

Peristiwa naas itu terjadi, menurut Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdianto, saat itu terjadi arus kuat.

“Dari investigasi ditemukan fakta bahwa pada saat kapal mendekati Pink Beach, saat itu terjadi arus kuat, hal ini akibat pasang surut. Sehingga membuat pusaran yang membuat kapal itu miring, terbalik namun tidak tenggelam,” ujar Stephanus, Kamis (1/8/2024) lalu.

Tepat satu Minggu setelah kejadian kapal cepat tenggelam di perairan Long Pink Beach, Pulau Padar, Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), kembali terjadi peristiwa yang sama.

Kapal Pinisi Monalisa I yang mengangkut lima orang wisatawan tenggelam usai diterjang gelombang tinggi dan arus di perairan antara Pink Beach dan Batu Tiga pada Kamis, 8 Agustus 2024 pagi.

Menurut keterangan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Maumere, Supriyanto Ridwan selaku SMC (SAR Mission Coordinator) melalui rilis diterima media, Kamis 8 Agustus 2024 siang mengatakan kejadian itu bermula sekitar pukul 06.00 wita.

“Kapal Pinisi Monalisa I berada di perairan Pink Beach dan Batu Tiga diterjang gelombang tinggi hingga akhirnya kapal oleng dan tenggelam,” terang Ridwan.

Beruntung, tambah dia, pada saat kejadian, Kapal Pinisi Monalisa I Tsamara berada di dekat Kapal Monalisa dan langsung melakukan evakuasi korban sekitar pukul 08.20 pagi.

Jumlah yang ada didalam kapal Pinisi Monalisa I itu total ada lima orang wisatawan, tiga orang dari wisatawan asal Indonesia dan dua orang dari negara Swiss.

Peringatan Cuaca dan Saran Berlayar BMK Stasiun Meteorologi IV Komodo

Kepada media di Labuan Bajo, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo, Maria Patricia Christin Seran saat ditemui, Kamis (8/82024) memaparkan perkiraan cuaca wilayah perairan Kabupaten Manggarai Barat dan peringatan dini gelombang tinggi pada saat dua peristiwa kecelakaan tersebut.

Setiap hari, kata Maria, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selalu terbitkan informasi perkiraan cuaca wilayah perairan Kabupaten Manggarai Barat dan juga peringatan dini gelombang tinggi. Termasuk sebarkan informasi pada hari kejadian tenggelamnya dua kapal tersebut.

“Selain peringatan dini gelombang tinggi dari BMKG pusat, ada juga peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, kemudian kami adopsi untuk berikan informasi kepada masyarakat di Manggarai Barat atau kepada pengguna informasi Maritim di perairan sekitar wilayah Manggarai Barat dalam bentuk peta yang sudah di downscaling dengan membagi wilayah perairan,” terang Maria.

Dikatakan Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo itu, hasil downscaling dengan membagi wilayah perairan itu ada dua bagian yaitu Selat Sape Bagian Utara dan Selat Sape Bagian Selatan.

Jadi, tambah dia, informasi seperti ini biasanya ada dua yang kami terbitkan atau dari Maritim Teno itu ada dua. Yang pertama berlaku jam 20.00 malam sampai dengan besok pagi jam 08.00, kemudian dari jam 08.00 pagi sampai dengan jam 20.00 malam, jadi tidak putus dan setiap hari.

Lanjut, ia kemudian menunjukkan pamflet hasil downscaling yang dipetakan oleh pihak BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo kepada media dilayar komputer dalam bentuk dua pamflet kepada media sembari menjelaskan.

Pamflet pertama tentang perkiraan cuaca wilayah perairan Kabupaten Manggarai Barat dan pamflet kedua tentang informasi peringatan dini gelombang tinggi.

Dari hasil itu, melalui kedua pamflet yang sudah mereka sebarkan itu, pada saat kejadian tanggal 1 Agustus 2024 lalu kondisi gelombang di Selat Sape Bagian Selatan itu dengan tinggi gelombang 1.25 meter sampai 2.5 meter. Kemudian, Selat Sape Bagian Utara tinggi gelombang 0.5 meter sampai 1.25 meter.

Dalam pamflet itu juga, pihak BMKG telah sampaikan informasi saran keselamatan, pada saran keselamatan itu mereka menerangkan harap diperhatikan resiko terhadap keselamatan pelayaran, dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap waspada.

Waktu kejadian, pola anggin di wilayah Indonesia bagian utara dominan bergerak dari Tenggara-Barat Daya dengan kecepatan angin berkisar 6-20 Knot, sedangkan wilayah Indonesia bagian selatan dominan bergerak dari Timur-Tenggara dengan kecepatan angin berkisar 8-25 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di perairan Pulau Buru dan Perairan Kepulauan Seraya.

Begitu juga kejadian kecelakaan tenggelamnya kapal Pinisi Monalisa I pada Kamis, 8 Agustus 2024, dengan ketinggian gelombang yang sama pada kejadian sebelumnya. Namun dalam informasi yang mereka sampaikan terkait peringatan dini.

BMKG menerangkan waspada potensi gelombang tinggi 1.25 meter di bagian Selatan Sape bagian Selatan. Kecepatan angin tertinggi terpantau di Selat Makassar bagian Selatan Banten, Samudra Hindia Barat Bengkulu hingga Lampung.

Maria katakan, dimana beberapa tempat kejadian yang sering terjadi kecelakaan kapal itu biasanya terjadi di wilayah perairan Selat Sape Bagian Selatan.

BMKG Telah Informasi ke KSOP Labuan Bajo
Pada dua peristiwa itu, pihak BMKG Komodo telah informasikan ke pihak KSOP Kelas III Labuan Bajo terkait tinggi keselamatan, infomasi cuaca perairan serta kecepatan angin dan juga tinggi gelombang di kedua wilayah tersebut.

“Iya, Kepala KSOP pun ada didalam WA group yang tadi saya sebutkan sebelumnya. Ada Pak Stephanus didalam Info Layanan BMKG Manggarai Barat dan Info Cuaca Perairan. Dan dia biasanya ketika kami share informasi tersebut, beliau biasa nya ada respon kadang-kadang, ada respon memberi jempol atau terima kasih seperti itu,” ujar Maria.

Selain itu kata dia, di setiap kali kesempatan pun saat ada rapat kordinasi selalu disampaikan bahwa izin berlayar yang dikeluarkan oleh KSOP itu juga salah satu rujukan nya adalah informasi cuaca dari BMKG.

Bahkan, informasi kondisi cuaca pada hari kejadian kecelakaan kapal cepat (speedboat) Refiero, pihaknya telah mengeluarkan informasi soal kondisi cuaca, tinggi gelombang serta kecepatan angin.

“Sudah. Setiap hari dua kali kami share disitu (WA Group), walaupun dari Maritim Teno juga menginformasikan di group tersebut tapi kami juga merasa punya kewajiban untuk kembali reshare (bagi kembali), kaya gitu,” terangnya.

Untuk peristiwa tanggal 8 Agustus 2024, pihak BMKG Komodo juga pun telah bagikan informasi dalam bentuk pamflet ke media group WhatsApp (WA) mereka dan didalam group termasuk ada Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo.

“Kalau informasi iya, sudah ada. Dalam satu hari itu pasti kami dua kali, karenakan jam berlakunya jam 08.00 pagi sampai dengan jam 20.00 malam, kemudian jam 20.00 malam sampai dengan jam 08.00 pagi lagi, 12 jam berikutnya,” paparnya.

Bahkan kata dia, ada juga infomasi yang berlaku tiga hari kedepan. Terkait tinggi gelombang yang akan di update setiap hari nya dan informasi yang berlaku besok dan lusa itu kami share (bagi) H-1 atau H-2.

Soal larangan atau diizinkan untuk pelayaran, Maria katakan, terkait bahwa ini ada pelarangan atau tidak, itu bukan kewenangan kami. Karena penggunaan informasi ini bukan hanya untuk kapal-kapal kecil.

“Kalau misalkan kami ditanya apakah bisa untuk kapal nelayan, tentu dengan saran keselamatan itu kami berkata tidak. Karena kan tergantung besar kecilnya kapal,” terangnya.

“Sebenarnya untuk dari tinggi gelombang dan kecepatan angin atau saran keselamatan ini, dari informasi yang BMKG sampaikan ini tinggal diimplementasikan sesuai kebutuhannya masing-masing. Untuk kapal kan BMKG share informasi ini atau memberi informasi inikan bukan hanya untuk jenis jenis kapal tertentu saja, tapi untuk semua sehingga saran keselamatan ini juga untuk semua,” jelasnya.

Jadi, lanjutnay, dengan catatan bahwa perahu nelayan dengan angin 15 knot dan tinggi gelombang sekitar 1.25 meter yang artinya bahwa perahu nelayan dilarang untuk melakukan melintasi wilayah perairan tersebut, kemudian kapal tongkang dengan kecepatan angin.

“Keputusan berlayar itu bukan ada di kami,” tegas Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo itu.

Penulis: Hamid

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://t.me/labuanbajovoice
Back to top button
error: Content is protected !!