LABUANBAJOVOICE.COM – Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kabupaten Manggarai Barat, Dr. Kanisius Jehabut, menyatakan dukungan penuh terhadap peluncuran dan pengembangan aplikasi Gendang Mabar yang diintegrasikan dengan aplikasi SiOra milik Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) sebagai langkah strategis membangun tata kelola pariwisata berbasis data.

Pernyataan tersebut disampaikan Kanisius Jehabut, Rabu (1/7/2026). Menurutnya, integrasi sistem digital tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pengelolaan destinasi wisata kelas dunia yang transparan, modern, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kanisius yang juga merupakan anggota DPRD Manggarai Barat Fraksi Gerindra dari Daerah Pemilihan I menilai, pembangunan sektor pariwisata tidak lagi dapat mengandalkan asumsi semata, melainkan harus bertumpu pada data yang akurat dan terintegrasi.

“Saya memberikan apresiasi dan mendukung penuh langkah Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang meluncurkan pengembangan aplikasi Gendang Mabar dan mengintegrasikannya dengan aplikasi SiOra milik BTNK. Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam membangun tata kelola pariwisata yang modern, transparan, dan berbasis data,” ujar Kanisius.

Ia menegaskan, sinkronisasi data antara pemerintah daerah dan Balai Taman Nasional Komodo akan memperkuat validitas informasi mengenai kunjungan wisatawan, reservasi, serta mobilitas wisatawan di kawasan strategis pariwisata Manggarai Barat.

“Bagi saya, pariwisata kelas dunia tidak dapat dikelola hanya dengan asumsi, tetapi harus didukung oleh satu data yang akurat, terintegrasi, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sinkronisasi data antara Pemerintah Daerah dan Balai Taman Nasional Komodo akan memperkuat validitas informasi mengenai kunjungan wisatawan, reservasi, hingga pergerakan wisatawan di kawasan strategis,” katanya.

Kanisius menjelaskan, integrasi data memiliki peran penting dalam mendukung penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran, meningkatkan kualitas pelayanan wisata, memperkuat pengawasan, sekaligus mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menurutnya, kesamaan data di antara seluruh pemangku kepentingan akan menciptakan dasar pengambilan keputusan yang lebih objektif, terukur, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Integrasi data ini juga sangat penting sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran, peningkatan pelayanan kepada wisatawan, penguatan pengawasan, serta optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan data yang sama, seluruh pemangku kepentingan akan memiliki dasar pengambilan keputusan yang lebih objektif dan terukur,” ujarnya.

Ia menilai, keberadaan satu sistem data yang terpadu akan membantu pemerintah dalam memetakan kebutuhan pembangunan sektor pariwisata, termasuk pengelolaan destinasi secara berkelanjutan.

Meski demikian, Kanisius mengingatkan agar pengembangan aplikasi Gendang Mabar tidak berhenti pada integrasi data kunjungan wisata semata. Ia mendorong agar sistem tersebut dikembangkan menjadi platform tata kelola pariwisata yang lebih menyeluruh.

Pengembangan itu, kata dia, perlu mencakup data kapal wisata, pelaku usaha pariwisata, transaksi ekonomi, pengelolaan lingkungan, hingga kepatuhan terhadap berbagai kewajiban perizinan dan perpajakan sesuai kewenangan masing-masing instansi.

“Ke depan, sistem ini perlu dikembangkan menjadi platform tata kelola pariwisata yang lebih komprehensif, mencakup data kapal wisata, pelaku usaha, transaksi ekonomi, pengelolaan lingkungan, hingga kepatuhan terhadap berbagai kewajiban perizinan dan perpajakan sesuai kewenangan masing-masing instansi,” katanya.

Kanisius menambahkan, penguatan sistem data terintegrasi juga sejalan dengan tugas Panitia Khusus (Pansus) Tata Kelola Kepariwisataan DPRD Kabupaten Manggarai Barat.

Menurutnya, integrasi data, perencanaan, dan model tata kelola menjadi salah satu isu strategis utama dalam pembahasan kebijakan kepariwisataan daerah.

“Sejalan dengan tugas Panitia Khusus (Pansus) Tata Kelola Kepariwisataan DPRD Kabupaten Manggarai Barat, penguatan sistem data merupakan bagian dari isu strategis kedelapan, yaitu integrasi data, perencanaan, dan model tata kelola. Tanpa data yang terintegrasi, sulit mewujudkan kebijakan pariwisata yang efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia berharap aplikasi Gendang Mabar dapat menjadi fondasi transformasi digital tata kelola pariwisata Manggarai Barat, sehingga kebijakan yang dihasilkan semakin akurat, transparan, memberikan kepastian hukum, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

“Saya berharap aplikasi Gendang Mabar benar-benar menjadi fondasi transformasi digital tata kelola pariwisata Manggarai Barat, sehingga seluruh kebijakan yang diambil ke depan semakin akurat, transparan, memberikan kepastian hukum, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan,” pungkasnya.**