LABUANBAJOVOICE.COM – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB/P2KB) Kabupaten Manggarai Barat kembali melaksanakan pelayanan Metode Operasi Wanita (MOW) sebagai bagian dari program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) bagi masyarakat.
Pelayanan yang berlangsung di RSUD Komodo, Labuan Bajo, itu menargetkan lima akseptor pada tahun 2026. Sebanyak tiga peserta menjalani tindakan pada hari pertama, sementara dua peserta lainnya dijadwalkan mengikuti pelayanan pada hari berikutnya.
Kepala DPPKB Kabupaten Manggarai Barat, Rafael Guntur, mengatakan pelayanan MOW merupakan agenda rutin tahunan pemerintah daerah untuk memberikan akses kontrasepsi jangka panjang kepada pasangan usia subur yang telah memiliki jumlah anak sesuai rencana keluarga.
“Kegiatan hari ini merupakan salah satu program di Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, yaitu pelayanan MOW atau steril untuk ibu-ibu. Hari ini ada tiga orang dan besok ada dua orang. Kegiatan MOW ini kami laksanakan secara rutin setiap tahun,” kata Rafael, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, MOW merupakan salah satu metode kontrasepsi permanen yang diperuntukkan bagi perempuan yang telah memutuskan tidak ingin memiliki anak lagi.
“Untuk detail teknis medisnya nanti dijelaskan oleh tim medis. Namun pada dasarnya, MOW adalah prosedur steril bagi ibu-ibu agar tidak melahirkan lagi. Ini merupakan bagian dari program MKJP dalam program KB,” ujarnya.
Rafael menjelaskan, tindakan tersebut dilakukan melalui prosedur medis pada saluran reproduksi sehingga tidak lagi memungkinkan terjadinya kehamilan. Meski demikian, kondisi kesehatan maupun aktivitas sehari-hari peserta tetap dapat berjalan normal setelah masa pemulihan sesuai anjuran tenaga medis.
Ia menegaskan bahwa pelayanan ini hanya diberikan kepada peserta yang telah memenuhi syarat, terutama pasangan yang telah memiliki dua anak atau lebih serta telah mencapai kesepakatan bersama antara suami dan istri.
“Kegiatan ini dilakukan atas kesepakatan antara suami dan istri bersama pihak penyelenggara. Diutamakan bagi pasangan yang sudah memiliki anak dua ke atas untuk mengikuti program KB jangka panjang melalui steril ini,” jelasnya.
Sebelum mengikuti tindakan operasi, setiap calon peserta terlebih dahulu mendapatkan sosialisasi langsung dari kader KB melalui kunjungan ke rumah-rumah warga.
Setelah menyatakan kesediaan, peserta menjalani proses pendataan dan pemeriksaan kesehatan (screening) untuk memastikan kondisi medis memungkinkan dilakukan tindakan operasi.
“Ada sosialisasi terlebih dahulu melalui pendekatan ke rumah-rumah oleh para kader kami. Jika masyarakat setuju, kami lakukan pendataan. Setelah didata, peserta harus melewati proses screening medis. Jika lolos screening, seperti tidak ada tekanan darah tinggi atau kondisi kesehatan lain yang menyulitkan operasi, baru tindakan bisa dilakukan,” ungkap Rafael.
Pada pelaksanaan kali ini, seluruh peserta berasal dari wilayah Kecamatan Komodo, khususnya dalam wilayah Kota Labuan Bajo.
Rafael menyebutkan program pelayanan MOW telah berlangsung secara rutin selama kurang lebih lima tahun.
Pada tahun sebelumnya, DPPKB menargetkan sekitar 52 calon peserta. Namun, setelah melalui proses pemeriksaan kesehatan dan persyaratan lainnya, hanya sekitar 20 orang yang dapat menjalani tindakan.
Sementara pada tahun 2026, keterbatasan anggaran menyebabkan target pelayanan dikurangi menjadi lima peserta.
“Tahun lalu target pendaftar sekitar 52 orang dan yang berhasil terlayani sekitar 20-an orang. Tahun ini karena anggaran yang terbatas, target sementara kita tetapkan lima orang, yakni tiga hari ini dan dua besok,” katanya.
Rafael memastikan pelayanan MOW tidak dipungut biaya sedikit pun. Seluruh pembiayaan ditanggung pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat, termasuk biaya transportasi peserta, jasa dokter, hingga kompensasi bagi peserta yang kehilangan waktu bekerja selama mengikuti pelayanan.
“Tidak ada biaya sama sekali dan tidak ada pemaksaan. Semua murni atas kesadaran dan persetujuan pasien setelah diberikan penjelasan. Syarat mutlaknya juga harus didampingi dan disetujui langsung oleh sang suami,” tegas Rafael.
Ia menambahkan, proses tindakan operasi berlangsung relatif singkat. Setelah operasi selesai, dokter akan menentukan apakah peserta dapat langsung pulang atau perlu menjalani observasi satu malam di rumah sakit.
Melalui pelayanan MOW, DPPKB berharap semakin banyak keluarga yang memanfaatkan metode kontrasepsi jangka panjang secara sadar dan bertanggung jawab.
Program ini dinilai tidak hanya mendukung pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga memberikan ruang bagi keluarga untuk meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan anak, dan kesejahteraan ekonomi.
“Harapannya masyarakat dapat memanfaatkan dan mengikuti program KB jangka panjang ini, khususnya bagi keluarga yang sudah memiliki anak lebih dari dua. Dengan begitu, orang tua memiliki waktu lebih untuk menata diri, merawat kesehatan, serta membantu meningkatkan perekonomian keluarga,” pungkas Rafael Guntur.**





Tinggalkan Balasan