Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan pengembangan Travel Pattern Wisata Religi Katolik Pulau Flores yang telah diluncurkan BPOLBF bersama keuskupan dan dinas pariwisata se-Pulau Flores pada September 2024.
Pola perjalanan tersebut dirancang untuk menghubungkan berbagai destinasi religi di Flores sehingga wisatawan memiliki pilihan perjalanan yang lebih luas.
“Camino de Flores menjadi salah satu momentum untuk menghidupkan pola perjalanan wisata religi di Pulau Flores melalui pengalaman yang memadukan refleksi spiritual, budaya, alam, dan interaksi dengan masyarakat,” ujarnya.
Melalui pengembangan pola perjalanan tersebut, wisatawan diharapkan tidak hanya mengunjungi satu destinasi, tetapi juga terdorong menjelajahi wilayah lain di Flores.
Pendekatan ini membuka peluang untuk memperkenalkan destinasi religi, kampung adat, tradisi lokal, serta potensi alam yang berada di sepanjang jalur perjalanan.
Salah satu harapan dari pengembangan Camino de Flores adalah memperluas pergerakan wisatawan yang selama ini cenderung terkonsentrasi di Labuan Bajo.





Tinggalkan Balasan