LABUANBAJOVOICE.COM — Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Agus Supratman, melayangkan protes keras terhadap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait data dan realisasi bantuan logistik untuk warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores.
Protes Agus tersebut viral di media sosial setelah dirinya terlibat perdebatan dengan salah satu petugas BNPB pusat.
Ia menyayangkan adanya informasi yang menurutnya tidak menggambarkan kondisi riil bantuan yang telah diterima Kecamatan Lamba Leda Utara pascagempa pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Agus menegaskan, bantuan yang diterima pihak kecamatan hingga Jumat (21/8/2026) masih terbatas. Ia bahkan menunjukkan langsung kondisi logistik yang berada di posko kecamatan.
“Kenyataan bantuan yang di terima saat ini, 300 tas paket inpres yang isinya gula 1 kg, daun teh satu kotak, susu Indomilk 1 kotak, margarin 2 bungkus, kopi kapal api 350 gram, beras merek boneka sawah kurang lebih 2 kg, ikan sarden 1 kaleng,” ujar Agus Jumaat (21/8/2026), dilansir Swarat.net.
Menurut Agus, informasi mengenai besarnya bantuan yang telah mengalir ke wilayah tersebut tidak sejalan dengan jumlah fisik logistik yang tercatat dan diterima pihak kecamatan.
Berdasarkan data pihak Kecamatan Lamba Leda Utara yang disampaikan Agus, bantuan Paket Inpres yang telah tiba berjumlah 300 tas paket sembako.
Setiap tas berisi 1 kilogram gula, satu kotak daun teh, satu kotak susu Indomilk, dua bungkus margarin, 350 gram kopi Kapal Api, kurang lebih 2 kilogram beras merek Boneka Sawah, serta satu kaleng ikan sarden.
Selain paket sembako, pihak kecamatan juga mencatat sejumlah bantuan non-pangan yang telah diterima di posko.
Bantuan tersebut terdiri atas 5 karung selimut dengan total 3.375 lembar atau 675 lembar per karung, 5 koli matras dengan total 1.250 lembar atau 250 lembar per koli, 16 ikat telur, 20 dos air minum mineral, 20 tenda keluarga, dan 50 hygiene kit.
Agus menilai rincian tersebut penting untuk disampaikan agar terdapat kesesuaian antara data administrasi pemerintah dengan kondisi logistik yang benar-benar tersedia di lapangan.
Perbedaan informasi mengenai jumlah bantuan tersebut kemudian memicu ketegangan antara Agus dan salah satu petugas BNPB pusat.
Agus mengaku emosional karena petugas BNPB tersebut terus menyampaikan bahwa bantuan yang telah disalurkan sudah dalam jumlah besar. Untuk memastikan kondisi sebenarnya, Agus bahkan menarik petugas tersebut untuk melihat langsung logistik yang tersedia di posko kecamatan.
Menurut pihak kecamatan, seluruh bantuan yang masuk langsung didistribusikan kepada masyarakat terdampak melalui 11 desa di Kecamatan Lamba Leda Utara.
Ketegangan semakin meningkat ketika pihak BNPB meminta Agus menandatangani berita acara penyerahan barang.
Agus menolak menandatangani dokumen tersebut. Alasannya, jumlah fisik barang yang berada di posko menurutnya tidak sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam dokumen administrasi.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dipermasalahkan bukan semata-mata jumlah bantuan, tetapi juga pentingnya akurasi pencatatan dalam proses penanganan bencana.
Memasuki hari keenam pascagempa, kebutuhan masyarakat terdampak di Lamba Leda Utara masih menjadi perhatian.
Pihak kecamatan menyatakan warga masih membutuhkan tambahan pasokan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat.**





Tinggalkan Balasan