LABUANBAJOVOICE.COM – Masyarakat Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi sambaran petir dan tanah longsor selama periode peralihan musim atau pancaroba.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Meteorologi Komodo Kelas II Labuan Bajo, Maria Patricia Christin Seran, menyusul hujan yang mengguyur Labuan Bajo selama dua hari berturut-turut pada awal November 2026.
Maria menjelaskan, hujan pada masa pancaroba umumnya terjadi pada siang hingga sore hari dan dapat disertai petir.
Kondisi ini berkaitan dengan pembentukan awan Cumulonimbus akibat tingginya penguapan ketika suhu udara meningkat.
Awan Cumulonimbus merupakan awan konvektif yang dapat berkembang menjulang tinggi dan berpotensi menghasilkan hujan lebat disertai petir.
Karena itu, masyarakat diminta segera menghindari tempat terbuka ketika melihat pertumbuhan awan hitam berukuran besar.
Untuk mengantisipasi sambaran petir, warga diimbau tidak bertahan di lapangan, persawahan, maupun kebun ketika kondisi tersebut mulai terlihat.
“Untuk itu, kami pihaknya mengimbau masyarakat untuk segera menjauhi tempat terbuka, seperti lapangan, sawah, dan kebun jika awan hitam besar sudah mulai terbentuk, demi menghindari bahaya sambaran petir.” kata Maria, Senin (2/11/2026).
Tanah Retak Akibat Kemarau Berpotensi Picu Longsor
Selain ancaman petir, ia juga mengingatkan potensi tanah longsor ketika hujan lebat mengguyur wilayah Manggarai Barat.
Maria menjelaskan, kondisi tanah yang mengalami retakan akibat kekeringan selama musim kemarau perlu menjadi perhatian masyarakat.
Kondisi tersebut, kata dia, ditambah pengaruh fenomena El Nino yang disebut dalam penjelasannya, dapat meningkatkan kerentanan lingkungan ketika hujan kembali turun.
“Selain itu, kenali dan waspadai lingkungan sekitar pada saat hujan lebat turun. Mengingat kondisi tanah yangg retak-retak karena kekeringan selama musim kemarau yang diikuti dengan fenomena El Nino, sangat rentan memicu bencana tanah longsor seketika,” jelasnya.
Peringatan tersebut menjadi perhatian khusus bagi warga yang tinggal di sekitar lereng, perbukitan, maupun kawasan dengan kondisi tanah yang mudah bergerak.
Masyarakat diminta memperhatikan perubahan kondisi lingkungan, terutama apabila muncul retakan tanah baru, pergeseran permukaan tanah, atau tanda-tanda pergerakan lereng.
Awal Musim Hujan Diprediksi Desember
BMKG menjelaskan bahwa hujan yang terjadi pada awal November belum menunjukkan musim hujan telah berlangsung secara menetap.
Secara umum, awal musim hujan di Manggarai Barat diprediksi terjadi pada Desember dasarian II dan III. Sebelum memasuki periode tersebut, intensitas hujan masih berpotensi mengalami perubahan.
Kondisi cuaca dapat berubah dari hujan menjadi cerah selama beberapa hari, kemudian kembali turun hujan mengikuti perkembangan dinamika atmosfer.
Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak mengabaikan potensi cuaca ekstrem meskipun musim hujan belum berlangsung secara konsisten.
Kewaspadaan terhadap petir dan potensi longsor perlu ditingkatkan sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi risiko bencana selama masa peralihan musim di Manggarai Barat.**





Tinggalkan Balasan