LABUANBAJOVOICE.COM — Sebanyak 73 orang meninggal dunia dan 931 orang mengalami luka-luka akibat gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Data sementara tersebut disampaikan Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, berdasarkan pendataan unsur SAR hingga Rabu (19/8/2026) pukul 18.00 Wita.
Dengan demikian, jumlah sementara korban meninggal dunia dan luka-luka mencapai 1.004 orang. Rinciannya terdiri atas 73 orang meninggal dunia dan 931 orang mengalami luka dengan tingkat keparahan berbeda.
Fathur menegaskan, angka tersebut masih bersifat sementara karena proses verifikasi dan konsolidasi data dari wilayah terdampak masih berlangsung.
“Kami masih melakukan pendataan dan konsolidasi di lapangan. Data ini masih bersifat sementara,” kata Fathur.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak dalam pendataan sementara tersebut.
Di daerah ini tercatat 24 orang meninggal dunia, sementara 198 orang mengalami luka berat dan 421 orang luka ringan.
Tingginya jumlah korban luka menunjukkan penanganan medis masih menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat di wilayah terdampak gempa.
Sementara itu, di Kabupaten Manggarai, khususnya wilayah Reo dan Reok, tercatat 27 orang meninggal dunia. Korban luka terdiri dari 32 orang luka berat dan 104 orang luka ringan.
Di Kabupaten Nagekeo, tercatat 11 orang meninggal dunia, 13 orang luka berat, dan 9 orang luka ringan.
Kemudian di Kabupaten Sikka, sebanyak 5 orang meninggal dunia, 18 orang luka berat, dan 22 orang luka ringan.
Di Kabupaten Ngada, tercatat 2 orang meninggal dunia, 17 orang luka berat, serta 19 orang luka ringan.
Sementara Kabupaten Ende mencatat 2 orang meninggal dunia, 5 orang luka berat, dan 67 orang luka ringan.
Adapun di Kabupaten Manggarai Barat, tercatat 2 orang meninggal dunia, 2 orang luka berat, dan 4 orang luka ringan.
Selain melakukan pencarian, pendataan, dan pemantauan korban, operasi SAR juga diarahkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah yang terdampak gempa.
Helikopter Dauphin Basarnas kembali bertolak dari Bandara Komodo Labuan Bajo menuju Kecamatan Pota, Kabupaten Manggarai Timur.
Penerbangan tersebut membawa misi untuk menggeser lima tenaga kesehatan sekaligus logistik kesehatan dari Kementerian Kesehatan ke wilayah yang membutuhkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan korban, terutama masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis di wilayah yang aksesnya masih menghadapi kendala pascagempa.
Fathur mengatakan penyisiran dan pemantauan akan terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
“Upaya ini dilakukan untuk memastikan tidak ada korban yang luput dari pendataan sekaligus mempercepat penanganan apabila terdapat masyarakat yang membutuhkan evakuasi medis,” terangnya.
Kantor SAR Maumere masih melakukan pendataan bersama unsur SAR dan petugas di lapangan untuk memastikan jumlah korban serta kondisi masyarakat terdampak.
Proses verifikasi menjadi penting untuk menghindari perbedaan data antarlembaga sekaligus memastikan setiap korban yang membutuhkan pertolongan dapat segera ditangani.
Namun, angka tersebut belum menjadi data final. Jumlah korban masih dapat berubah seiring proses pencarian, pendataan, verifikasi, dan konsolidasi laporan dari masing-masing wilayah terdampak.**





Tinggalkan Balasan