Sukarman juga berjanji menghidupkan kembali Karang Taruna yang sempat mengalami kevakuman. Menurut gagasannya, pemuda harus diberikan ruang untuk terlibat dalam pengelolaan potensi desa.

Selain pariwisata, pembangunan ekonomi masyarakat juga diarahkan pada sektor pertanian, perikanan tangkap, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, Sukarman mengedepankan pendekatan kultural melalui musyawarah mufakat adat atau Lonto Leok.

Persoalan sosial masyarakat akan diupayakan diselesaikan secara kekeluargaan bersama Tu’a Golo atau tetua adat. Hukum positif ditempatkan sebagai jalan terakhir apabila persoalan tidak dapat diselesaikan melalui mekanisme sosial dan adat.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Ekin, tokoh masyarakat dari Kampung Tao.

“Gelar Magisternya membuat ia paling tepat memimpin desa ini. Sebelum mencalonkan diri pun, beliau adalah tokoh kunci di balik perumusan RPJMDes dan RKPDes Golo Mori,” tegas Ekin, Rabu (30/9/2026).

Dukungan lainnya disampaikan Hilarius S. Yance D., perwakilan Kampung Nggoer. Ia menilai visi pariwisata yang dibawa Sukarman berpijak pada prinsip kelestarian, kemakmuran, dan daya saing.