LABUANBAJOVOICE.COM – Penguatan keselamatan wisata bahari menjadi perhatian dalam pelaksanaan Sertifikasi Kepemanduan Wisata Snorkeling Level III yang digelar di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan yang berlangsung pada 23–24 September 2026 tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi Kementerian Pariwisata, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pramindo, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.

Sertifikasi tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan upskilling yang dilaksanakan pada 22 September 2026. Dari total 40 orang yang mendaftar, sebanyak 30 peserta mengikuti proses asesmen sertifikasi.

Proses asesmen dilaksanakan di sekitar kawasan Pantai Pede, Labuan Bajo, dengan mengacu pada standar kompetensi yang dipersyaratkan bagi pemandu wisata snorkeling.

Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Industri, Kementerian Pariwisata, Faisal, mengatakan sertifikasi tersebut merupakan salah satu bentuk respons pemerintah terhadap persoalan keselamatan wisata sekaligus tindak lanjut rapat koordinasi terkait kepariwisataan Labuan Bajo dan pemulihan pariwisata Flores.

“Kegiatan ini merupakan respons kita terhadap persoalan keselamatan wisata sekaligus tindak lanjut dari rapat koordinasi beberapa waktu lalu bersama Ibu Menteri Pariwisata.” kata Faisal, Kamis (24/9/2026).

Menurut Faisal, proses uji kompetensi harus dilakukan sesuai prosedur dan secara independen. Kompetensi peserta harus menjadi dasar dalam menentukan hasil asesmen, sehingga peserta yang memenuhi standar dinyatakan kompeten dan yang belum memenuhi standar dinyatakan belum kompeten.

“Hal ini penting karena menyangkut kualitas, kepercayaan, pelayanan, dan tentu saja keselamatan wisatawan,” tegas Faisal.

Ia menekankan, sertifikasi tidak seharusnya berhenti sebagai formalitas administratif. Proses tersebut harus mampu memastikan tenaga kerja pariwisata benar-benar memiliki kompetensi sesuai standar, terutama mereka yang berhadapan langsung dengan wisatawan dalam aktivitas yang memiliki risiko keselamatan.

Pemandu Dituntut Mampu Mengenali Risiko

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, mengatakan kompetensi pemandu menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pariwisata Labuan Bajo yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan.

Menurut Andhy, pemandu tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga harus mampu memahami kondisi wisatawan, mengenali potensi risiko, hingga mengambil tindakan yang tepat ketika terjadi keadaan darurat.

“Pemandu wisata merupakan bagian penting dari pengalaman wisatawan. Karena itu, kompetensi tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana memberikan pelayanan yang baik, memahami kondisi wisatawan, mengenali potensi risiko, serta mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat. Hal ini dapat didukung oleh tenaga yang kompeten dan tersertifikasi,” ujar Andhy.

Penguatan kompetensi tersebut menjadi semakin penting karena pemandu berada di garis depan ketika wisatawan melakukan aktivitas snorkeling.

Kemampuan mengenali kondisi lapangan dan potensi risiko dapat menjadi bagian penting dalam mendukung keselamatan selama aktivitas wisata berlangsung.

Karena itu, peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan sertifikasi dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar aktivitas wisata bahari di Labuan Bajo didukung tenaga profesional yang memenuhi standar kompetensi.

Kolaborasi pemerintah, lembaga sertifikasi, BPOLBF, dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas SDM sekaligus mendukung penyelenggaraan wisata snorkeling yang lebih aman dan profesional.**