LABUANBAJOVOICE.COM – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Golo Mori di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alam baru.
Selain kemunculan komodo pada Kamis (5/2/2026), kawasan tersebut juga diketahui menjadi habitat berbagai jenis fauna liar yang menambah daya tarik wisata berbasis konservasi.
General Manager The Golo Mori-ITDC, Wahyuaji Munarwiyanto, mengungkapkan bahwa keanekaragaman satwa liar di kawasan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama pengembangan pariwisata berkelanjutan di wilayah Golo Mori.
“Karena di tempat kita ada monyet, rusa, kuda sama kakaktua jambul kuning juga. Menurut saya itu sangat menarik, dan kita akan berusaha supaya tetap begitu mudah-mudahan,” ujar Aji, Sabtu (27/2/2026).
Menurut Aji, keberadaan berbagai jenis fauna, termasuk komodo, dapat dikembangkan sebagai alternatif destinasi wisata darat di Pulau Flores.
Wisatawan, kata dia, berpotensi menyaksikan komodo dan satwa liar lainnya tanpa harus menyeberang ke Pulau Komodo atau Pulau Rinca yang berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).
“Menurut saya sebenarnya iya, hanya memang kita perlu siapkan mitigasimitigasi supaya jangan ada interaksi negatif antara manusia dengan komodo. Hal ini juga yang menjadi perhatian BKSDA,” ujar Aji, Sabtu (7/2/2026).
Ia menjelaskan, Pulau Flores sejak lama termasuk wilayah sebaran alami komodo di luar kawasan TNK. Oleh karena itu, keberadaan satwa tersebut di beberapa wilayah daratan Flores bukan fenomena baru.
“Jadi memang ada monitoring rutin dari BKSDA untuk statistik juga, ada beberapa kali kok seingat saya,” ujarnya.
Monitoring yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menjadi bagian penting dalam pengawasan populasi komodo di luar kawasan konservasi utama, sekaligus memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Aji menilai pengembangan wisata satwa di Golo Mori dapat menjadi solusi alternatif ketika aktivitas wisata bahari di kawasan TNK terganggu kondisi cuaca ekstrem seperti angin kencang dan gelombang tinggi yang berpotensi menghambat pelayaran kapal wisata.
“Kaya bulan lalu ada teman saya pas liburan sama istrinya, pingin sekali liat komodo karena belum pernah. Tapi kan pas penutupan jadi gak bisa ke TNK,” ujarnya.
“Sebenarnya bisa menjadi alternatif buat tetap di Flores tapi bisa lihat komodo juga,” tambahnya.
Meski berpotensi menjadi daya tarik wisata, Aji mengakui keberadaan komodo di kawasan Golo Mori tidak dapat dipastikan karena pergerakannya bersifat alami.
“Hanya masalahnya kan susah ditebak akan nongol apa gak, sama sebelah mana kalo nongol,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kesiapan pengelola dalam menerapkan standar keamanan yang ketat, baik bagi wisatawan maupun satwa liar itu sendiri.
Pengelola kawasan Golo Mori, lanjut Aji, berkomitmen menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna memastikan aktivitas wisata tetap aman, nyaman, serta tidak mengganggu habitat alami komodo dan satwa liar lainnya.
“Tapi nanti kami akan konsultasi lebih lanjut dengan para ahli nya, apakah itu dari BKSDA, TNK atau penduduk sekitar juga yang lebih paham pastinya,” tambahnya.
Koordinasi dengan lembaga konservasi, otoritas Taman Nasional Komodo, serta masyarakat lokal dinilai menjadi strategi penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mendukung pengembangan wisata berbasis konservasi di Manggarai Barat.**





Tinggalkan Balasan