LABUANBAJOVOICE.COM – Ketika sebagian besar masyarakat masih terlelap, aktivitas kemanusiaan justru mulai bergerak di Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat.

Tepat pukul 05.00 WITA, Jumat (21/8/2026), personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Manggarai Barat kembali menjalankan tugas di tengah situasi darurat pascagempa yang mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya.

Di sebuah tenda darurat yang berdiri di halaman kantor BPBD Manggarai Barat, posko berubah menjadi pusat koordinasi distribusi bantuan. Meja-meja darurat dipenuhi peta wilayah, daftar kebutuhan, catatan pengiriman hingga data penerima bantuan.

Para personel bekerja secara bergiliran, siang dan malam, memastikan arus logistik dari gudang menuju masyarakat terdampak tetap berjalan.

Setiap karung beras yang tiba didata. Setiap dus mi instan dicatat jumlah dan tujuan distribusinya. Jeriken minyak goreng diperiksa kondisi kemasannya sebelum diberangkatkan ke wilayah penerima.

Bagi personel Satpol PP, pekerjaan tersebut bukan sekadar aktivitas bongkar-muat. Di balik setiap paket bantuan terdapat kebutuhan masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana.

“Kami seperti tidak pernah tidur. Jika logistik datang pukul 03.00, kami tetap di sini menyambut. Karena kami tahu, masyarakat menunggu,” ujar Kepala Satpol PP Manggarai Barat, Yeremias Ontong, Jum’at (21/8/2026).

Saat siang tiba, personel Satpol PP berjibaku di bawah terik matahari. Truk-truk pengangkut logistik yang tiba di posko langsung dibongkar.

Sebagian personel berada di atas bak truk untuk menurunkan karung bantuan. Personel lainnya menerima dan menata barang di area penyimpanan sementara. Pada saat yang sama, petugas pencatat memastikan jumlah barang sesuai dengan data pengiriman.

Lampu sorot dan senter menjadi penerang. Udara malam yang dingin tidak menghentikan aktivitas. Karung beras, dus mi instan, minyak goreng, terpal, selimut, obat-obatan hingga makanan bayi tetap harus dipindahkan dan dipersiapkan untuk dikirim.

Beras diangkat secara berpasangan dan ditata di tempat penyimpanan sementara. Mi instan ditumpuk dengan hati-hati agar kemasannya tidak rusak. Minyak goreng diperiksa bagian tutup dan kemasannya untuk memastikan tidak bocor.

Sementara terpal dan selimut dikemas agar terlindungi dari air, terutama untuk kebutuhan masyarakat di wilayah yang memiliki akses sulit.

Obat-obatan dan makanan bayi menjadi bagian yang mendapat perhatian khusus agar dapat segera dikirim kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di tengah aktivitas itu, suasana posko dipenuhi suara koordinasi. Tidak hanya tenaga fisik yang dibutuhkan, tetapi juga ketelitian agar bantuan tidak salah jumlah, salah tujuan maupun terlambat diterima.

Tugas personel Satpol PP tidak berhenti setelah barang keluar dari gudang atau posko.

Mereka turut mengawal dan mengangkut logistik menuju titik-titik pengungsian dan wilayah terdampak. Dalam perjalanan, mereka harus menghadapi kondisi jalan yang berbatu, berlumpur dan sulit dilalui kendaraan.

Ketika truk tidak dapat mencapai lokasi tujuan, personel melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil memanggul bantuan sejauh ratusan meter.

Di sejumlah wilayah pesisir, mereka harus melewati jembatan darurat berbahan papan kayu. Sementara di wilayah perbukitan, perjalanan dilakukan dengan medan menanjak dan penerangan terbatas.

“Kami tahu medannya berat. Tapi saat kami sampai dan melihat wajah-wajah lega para pengungsi, semua rasa lelah itu hilang,” cerita salah satu anggota Satpol PP.

Di lokasi penerima bantuan, personel tidak sekadar menyerahkan logistik.

Mereka berkoordinasi dengan kepala dusun, mencatat jumlah keluarga penerima dan memastikan bantuan diarahkan kepada masyarakat sesuai kebutuhan.

Langkah tersebut menjadi penting dalam kondisi darurat, ketika kebutuhan masyarakat meningkat dan distribusi bantuan harus dilakukan secara tertib serta tepat sasaran.

Di balik mobilitas personel yang berlangsung hampir tanpa jeda, terdapat sistem koordinasi yang menjadi fondasi kerja Satpol PP Manggarai Barat.

Setiap regu memiliki komandan yang bertanggung jawab terhadap personel dan pelaksanaan tugas di lapangan.

Sistem kerja bergiliran diterapkan agar personel dapat menjalankan tugas secara berkelanjutan tanpa mengabaikan kondisi fisik. Komunikasi antara posko, tim bongkar-muat dan tim lapangan juga terus dijaga menggunakan radio komunikasi maupun telepon seluler.

Pola kerja tersebut membuat proses penerimaan, pencatatan, pemuatan hingga pengiriman bantuan dapat dilakukan secara terkoordinasi.

Di tengah situasi bencana, kecepatan tetap harus berjalan beriringan dengan ketepatan. Bantuan yang cepat tetapi tidak tercatat berisiko menimbulkan persoalan dalam distribusi. Sebaliknya, pencatatan yang baik tanpa mobilitas di lapangan juga tidak cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, koordinasi menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan bergerak dari posko hingga ke tangan masyarakat.

Satpol PP selama ini lebih sering dikenal sebagai aparat pemerintah daerah yang menjalankan fungsi penegakan peraturan daerah dan menjaga ketertiban umum.

Namun dalam situasi bencana, peran tersebut berkembang menjadi bagian dari kerja kemanusiaan.

Personel Satpol PP Manggarai Barat hadir sebagai bagian dari rantai distribusi logistik, membantu proses bongkar-muat, mengangkut bantuan, mengawal distribusi hingga menjangkau masyarakat di lokasi yang sulit diakses.

Seragam abu-abu yang biasanya identik dengan tugas ketertiban, dalam situasi darurat berubah menjadi simbol pelayanan kepada masyarakat.

Mereka bekerja di tengah keterbatasan, menempuh medan sulit dan menjalankan tugas secara bergantian agar distribusi bantuan tetap berjalan.

Bagi masyarakat terdampak gempa, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan dalam bentuk barang, tetapi juga kepastian bahwa mereka tidak menghadapi situasi bencana seorang diri.

Di titik itulah kehadiran personel di lapangan memiliki arti lebih dari sekadar pekerjaan administratif.

Gempa dapat merusak rumah, mengganggu aktivitas masyarakat dan memaksa warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Namun bencana juga memperlihatkan bagaimana solidaritas bekerja ketika masyarakat berada dalam kondisi paling sulit.

Satpol PP Manggarai Barat memilih menjawab situasi tersebut dengan aksi.

Mereka mengangkut beras, mi instan, minyak goreng, terpal, selimut dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun yang dibawa ke pelosok-pelosok wilayah terdampak bukan hanya barang bantuan.

Harapan agar masyarakat yang berada di pengungsian tetap mendapatkan kebutuhan dasar. Harapan agar bantuan pemerintah dapat menjangkau mereka yang berada jauh dari pusat kota.

Dan harapan agar masyarakat terdampak mengetahui bahwa masih ada banyak pihak yang bekerja untuk membantu mereka melewati masa darurat.

Di Manggarai Barat, Agustus 2026, ketika bencana menuntut kecepatan, Satpol PP memilih untuk terus bergerak.

Ketika masyarakat membutuhkan, mereka hadir.

Bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan masyarakat hingga kondisi kembali aman dan aktivitas warga berangsur pulih.

Satpol PP Manggarai Barat: bergerak 24 jam, mengantar bantuan, dan menjaga harapan masyarakat terdampak gempa.**