Hans Sodo menegaskan, selama ini pola perjalanan wisata masih terlalu berpusat pada kawasan habitat komodo sehingga berpotensi meningkatkan tekanan ekologis apabila tidak dikendalikan.

“Kami ingin menggeser paradigma dari sekadar menonton menjadi merasakan. Wisatawan tidak hanya datang melihat komodo, tetapi juga menikmati budaya, berbelanja produk UMKM, dan mengunjungi destinasi wisata di daratan Manggarai Barat,” katanya.

Sejumlah destinasi seperti Gua Rangko, Pulau Kukusan, dan objek wisata daratan lainnya diproyeksikan menjadi alternatif tujuan wisata agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.

Menurut Hans Sodo, strategi tersebut sekaligus memberi ruang bagi Taman Nasional Komodo untuk tetap terjaga sebagai kawasan konservasi berkelas dunia.

Di sisi lain, Sekda mengakui pengembangan destinasi wisata berkelanjutan masih menghadapi tantangan keterbatasan anggaran.

Karena itu, pemerintah daerah mulai membuka berbagai skema pembiayaan di luar APBD, antara lain melalui kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), dukungan Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga alternatif pembiayaan lainnya.