Menurut dia, menghadirkan para akademisi bergelar doktor dalam penyusunan kurikulum daerah merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menjaga warisan budaya Manggarai.
Sementara itu, Rektor Unika St. Paulus Ruteng, RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., menyoroti pentingnya muatan lokal sebagai bagian dari proses dekolonialisasi pendidikan.
Menurutnya, pendidikan tidak boleh menjauhkan peserta didik dari identitas budayanya sendiri, melainkan harus menjadikan budaya lokal sebagai fondasi dalam memahami dunia yang semakin global.
“Pendidikan sejati harus berangkat dari kebudayaan sendiri. Tahun 2013 dalam diskursus pendidikan sudah ada gagasan dekolonialisasi pendidikan, bagaimana pendidikan harus kembali ke rumahnya sendiri,” ujar Romo Manfred.
“Manusia yang sejati adalah manusia yang sadar akan identitasnya, menghargai identitas budayanya, dan menjadikan identitas budaya ini sebagai pondasi untuk berdialog dengan pendidikan global,” tambahnya.





Tinggalkan Balasan