LABUANBAJOVOICE.COM – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mendorong keterlibatan dunia usaha, lembaga pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung penanganan keluarga berisiko stunting.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat masih terdapat sekitar 1.183 keluarga di Manggarai Barat yang membutuhkan perhatian dan dukungan untuk meningkatkan kualitas kesehatan serta pemenuhan gizi keluarga.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Manggarai Barat, Rafael Guntur, dalam kegiatan penyaluran bantuan sembako kepada 10 keluarga berisiko stunting di Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Senin (2/11/2026).
Dalam kegiatan yang didukung Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) tersebut, Rafael menjelaskan pemerintah daerah terus berupaya membangun kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas dukungan kepada keluarga yang membutuhkan.
Menurutnya, penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Dukungan dari sektor swasta, BUMN, BUMD, badan usaha pariwisata, dan masyarakat juga diperlukan agar keluarga berisiko mendapatkan perhatian secara berkelanjutan.
Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan pendekatan kepada sejumlah lembaga dan perusahaan untuk mengajak mereka berpartisipasi dalam program tersebut.
“Sehingga beberapa bulan lalu kami melakukan kunjungan ke beberapa kantor,” kata Rafael.
Ia menyebutkan, dukungan yang diterima sebelumnya berasal dari PT Elnusa Petrofin. Kali ini, BPOLBF turut mengambil bagian dengan memberikan bantuan kepada 10 keluarga di Desa Golo Bilas.
Rafael berharap keterlibatan berbagai pihak tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
Dalam keterangannya, ia menyebutkan bahwa dari hasil pendataan DP2KB Manggarai Barat terdapat sekitar 1.183 keluarga yang setidaknya membutuhkan perhatian dan dukungan dari lingkungan sekitar maupun berbagai lembaga.
“Dalam catatan kami, sesuai dengan yang kami data, di Manggarai Barat ini kurang lebih ada 1.183 keluarga yang harus paling kurang ada perhatian dari keluarga, ataukah dari badan hukum, ataukah dari hotel, atau instansi pusat untuk bisa dapat paling kurang memberi dukungan kepada keluarga-keluarga yang sangat membutuhkan,” ujarnya.
Rafael juga menekankan pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Periode tersebut menjadi salah satu fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga membutuhkan perhatian khusus dari keluarga.
Ia menjelaskan, pemenuhan kebutuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun menjadi bagian penting dalam membangun kualitas generasi mendatang.
Karena itu, keluarga, khususnya ibu hamil dan ibu menyusui, perlu mendapatkan dukungan agar kebutuhan gizi dapat terpenuhi secara memadai.
“Sehingga kami dorong khusus,” tegasnya.
Rafael berharap bantuan yang diberikan melalui program GENTING dapat menjadi salah satu bentuk perhatian nyata kepada keluarga penerima manfaat.
Ia juga mengingatkan agar bantuan yang diterima tidak dinilai hanya berdasarkan jumlah atau bentuk barang, melainkan sebagai wujud kepedulian dan gotong royong dalam membantu keluarga yang membutuhkan.
“Harapannya dengan bantuan sembako ini bisa paling kurang kebutuhan-kebutuhan Ibu-ibu semua di dapur bisa terpenuhi. Memang tidak bisa diharapkan bahwa itu bisa menyelesaikan semua sekurang-kurangnya,” jelas Rafael.
Sementara itu, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andy MT Marpaung, menyatakan dukungan lembaganya merupakan bagian dari tanggung jawab moral badan usaha pariwisata terhadap masyarakat di sekitar kawasan pariwisata Labuan Bajo.
Ia menilai pembangunan pariwisata harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, termasuk melalui dukungan terhadap program pencegahan stunting.
Andy berharap kontribusi BPOLBF dapat ditingkatkan pada masa mendatang sehingga semakin banyak keluarga yang memperoleh manfaat.
Di sisi lain, Kepala Desa Golo Bilas, Ahmad Radit, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah daerah dan BPOLBF kepada masyarakat di desanya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan fasilitas dan tempat yang digunakan selama kegiatan berlangsung.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemkab Manggarai Barat berharap dukungan terhadap keluarga berisiko stunting dapat semakin luas.
Keterlibatan berbagai pihak diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui bantuan sesaat, tetapi juga menjadi gerakan bersama untuk membangun keluarga sehat dan generasi berkualitas di Manggarai Barat.**





Tinggalkan Balasan