LABUANBAJOVOICE.COM — Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Zhang Zhi Sheng melakukan kunjungan kerja ke Labuan Bajo, Senin pagi, 25 Mei 2026. Kunjungan ini menyoroti meningkatnya kunjungan wisatawan asal Tiongkok sekaligus membuka peluang kerja sama sektor penerbangan, pariwisata, hingga ekspor produk lokal.

Setibanya di Bandara Internasional Komodo, Zhang Zhi Sheng disambut Tim Penghubung Konjen RRT NTT, Charles Angliwarman, jajaran Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Manggarai Barat, serta Kepala UPBU Kelas I Komodo, Ceppy Triono.

Rombongan kemudian meninjau sejumlah fasilitas bandara sebelum melanjutkan pertemuan tertutup di ruang VIP Bandara Komodo. Dalam pertemuan tersebut, pembahasan difokuskan pada kesiapan Labuan Bajo menghadapi lonjakan wisatawan asal China serta beberapa pembahasan lain yang sifatnya tertutup.

Charles Angliwarman mengatakan, Konjen RRT menaruh perhatian serius terhadap aspek keamanan dan kenyamanan wisatawan Tiongkok yang datang ke Labuan Bajo.

Menurut dia, wisatawan China kini mendominasi kunjungan internasional ke destinasi super prioritas tersebut.

“Dengan data yang ada, sekarang kunjungan wisatawan turis China ke Labuan Bajo meningkat tajam. Bahkan hampir 85 persen wisatawan yang datang sejak Januari hingga Mei berasal dari China,” kata Charles kepada wartawan.

Lonjakan wisatawan itu, lanjut Charles, mendorong Konjen RRT meminta agar fasilitas informasi publik di bandara mulai dilengkapi dengan bahasa Mandarin. Mulai dari papan petunjuk keberangkatan, kedatangan, hingga layanan informasi wisata.

“Permintaan dari Konjen agar ke depan disiapkan ruang informasi dalam bahasa Mandarin. Tulisan-tulisan dan sign di area keberangkatan maupun kedatangan juga diharapkan tersedia dalam bahasa Mandarin,” ujarnya.

Selain fasilitas bahasa, Konjen RRT juga menyoroti pentingnya penyediaan literasi wisata dalam bahasa Mandarin di kawasan bandara maupun pusat oleh-oleh.

Menurut Charles, wisatawan China memiliki minat tinggi terhadap informasi budaya dan destinasi yang mereka kunjungi.

“Ada usulan supaya toko suvenir atau tempat penjualan buku menyediakan buku tentang Labuan Bajo dan pariwisata dalam bahasa Mandarin. Orang-orang Chinese suka membaca dan ingin mengetahui budaya daerah yang mereka kunjungi,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Kepala Bandara Komodo, Ceppy Triono, juga memaparkan rencana pengembangan bandara yang akan dilakukan bertahap mulai 2027 hingga 2030.

Pengembangan tersebut mencakup perluasan terminal kedatangan internasional untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan mancanegara.

Ceppy juga menyampaikan adanya peluang pembukaan penerbangan langsung dari sejumlah negara seperti Australia dan Belanda ke Labuan Bajo. Namun untuk rute langsung dari China, masih diperlukan pengembangan infrastruktur bandara, terutama kemampuan melayani pesawat berbadan lebar atau wide body.

“Hanya saja karena penerbangan dari China membutuhkan waktu lebih dari tujuh jam, maka harus menggunakan pesawat berbadan lebar. Sementara kapasitas bandara saat ini belum memungkinkan,” kata Charles menjelaskan hasil pembicaraan tersebut.

Tak hanya sektor pariwisata, Konjen RRT juga menyinggung peluang ekspor komoditas lokal dari Flores dan NTT menuju pasar China. Untuk mendukung itu, pembangunan terminal kargo dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

“Produk lokal seperti kopi, hasil pertanian, hingga buah-buahan punya peluang besar masuk pasar China. Karena itu terminal kargo harus dipersiapkan,” ujar Charles.

Ia mencontohkan Bali yang telah rutin mengirim komoditas pertanian ke China dalam jumlah besar. Menurut dia, Labuan Bajo dan Flores juga memiliki potensi serupa jika didukung infrastruktur logistik memadai.

Dalam kesempatan yang sama, pihak bandara juga mengusulkan adanya pelatihan bahasa Mandarin bagi petugas pelayanan publik di bandara, pelabuhan, imigrasi, hingga aparat keamanan.

Selama ini komunikasi dengan wisatawan asing masih banyak mengandalkan aplikasi penerjemah di telepon genggam.

Menanggapi hal itu, Konjen RRT disebut mendukung penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan bahasa Mandarin. Dukungan tersebut salah satunya diwujudkan melalui peluncuran Jihan Mandarin College di Labuan Bajo.

“Besok akan ada launching Jihan Mandarin College di El Bajo. Ini diharapkan membantu pelatihan bahasa Mandarin untuk petugas bandara, pelabuhan, kepolisian, hingga imigrasi,” ujar Charles.

Kunjungan Konjen RRT ke Labuan Bajo dinilai menjadi sinyal kuat meningkatnya perhatian pemerintah China terhadap pengembangan destinasi wisata premium Indonesia timur.

Selain memperkuat sektor pariwisata, kunjungan ini juga membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas antara China dan Labuan Bajo.**