Ia berharap kepemimpinan PBNU 2026–2031 dapat membangun komunikasi yang semakin kuat dengan struktur NU di daerah.

“Harapan kami, kepemimpinan PBNU yang baru semakin memperkuat konsolidasi organisasi dari tingkat pusat sampai daerah. Jangan sampai ada jarak antara kebijakan PBNU dengan kebutuhan dan realitas yang dihadapi pengurus NU di daerah,” katanya.

Menurut dia, keberhasilan NU pada masa mendatang tidak hanya ditentukan oleh kepemimpinan di tingkat pusat, tetapi juga oleh kekuatan struktur organisasi di daerah.

“PCNU, MWCNU dan ranting adalah ujung tombak pelayanan NU kepada masyarakat. Karena itu, penguatan struktur, kaderisasi dan kapasitas pengurus di daerah harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Ustadz Rudi juga berharap seluruh potensi yang ada di tubuh NU dapat dirangkul setelah Muktamar berakhir.

Pesan tersebut sejalan dengan amanah AHWA kepada Rais Aam terpilih agar seluruh potensi NU diajak bersama-sama merawat dan mengurus organisasi.

“Pesan kami, setelah Muktamar ini seluruh elemen NU harus kembali bersatu. Perbedaan dalam proses Muktamar adalah bagian dari dinamika organisasi. Setelah keputusan diambil, semua harus kembali bergandengan tangan membangun NU,” katanya.