LABUANBAJOVOICE.COM – Kapal pesiar internasional MV Vasco Da Gama bersandar di kawasan perairan Taman Nasional Komodo (TNK), Labuan Bajo, Rabu (25/2/2026). Kapal tersebut tiba usai berlayar dari Darwin, dan dijadwalkan melanjutkan pelayaran menuju Pelabuhan Benoa.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo, Charles Christian Mathaus, menyampaikan bahwa total penumpang di atas kapal mencapai 753 orang.

Dari jumlah tersebut, tambahnya, sebanyak 554 wisatawan turun untuk berkunjung dan mengikuti aktivitas wisata di kawasan TNK Labuan Bajo.

“Kedatangan kapal pesiar ini menunjukkan kepercayaan pasar internasional terhadap Labuan Bajo sebagai destinasi unggulan. Proses keimigrasian berjalan lancar dan sesuai standar pelayanan,” ujar Charles.

Berdasarkan data manifes, penumpang MV Vasco Da Gama berasal dari 21 negara dengan dominasi wisatawan Jerman. Rinciannya antara lain: Austria (16), Australia (6), Jerman (700), Prancis (1), Belanda (2), Indonesia (4), Amerika Serikat (2), Republik Ceko (1), India (1), Latvia (1), Portugal (3), Romania (3), dan Swiss (13).

Komposisi tersebut menegaskan kuatnya minat pasar Eropa, khususnya Jerman, terhadap wisata bahari dan keunikan ekosistem Komodo yang telah mendunia.

“Dominasi wisatawan Eropa menjadi sinyal penting bagi pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas layanan, pemanduan, serta pengelolaan destinasi berkelanjutan,” tambah Charles.

Selama berada di kawasan TNK Labuan Bajo, kapal pesiar ini singgah selama kurang lebih 8–10 jam. Waktu kunjungan tersebut dimanfaatkan wisatawan untuk menjelajah Pulau Komodo dan destinasi sekitarnya dengan pengawasan ketat demi menjaga kelestarian kawasan konservasi.

Kedatangan kapal pesiar berkapasitas besar ini dinilai memberikan dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha lokal – mulai dari pemandu wisata, transportasi laut, hingga UMKM – sekaligus memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai hub wisata kapal pesiar internasional di Indonesia timur.

“Ke depan, kami berharap arus kapal pesiar semakin konsisten. Ini menuntut kesiapan lintas sektor -imigrasi, pelabuhan, pariwisata, dan konservasi- agar manfaat ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan,” pungkas Charles.**