LABUANBAJOVOICE.COM — Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kabupaten Manggarai Barat, Kanisius Jehabut menegaskan pentingnya membangun keterhubungan antara sektor pariwisata dan produk lokal masyarakat sebagai strategi memperkuat ekonomi daerah di tengah tekanan ekonomi global.
Pernyataan itu disampaikan Kanisius saat menghadiri Workshop “Memperkuat Kepemimpinan Perempuan Upaya Jalan Menuju Perubahan di Tengah Tantangan Iklim dan Perubahan Sosial” yang diselenggarakan Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri(APIR) di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Kamis, 7 Mei 2026.
Dalam forum yang dihadiri perempuan tani dari 65 desa tersebut, Kanisius menilai pembangunan daerah tidak bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan sektor pariwisata semata.
Menurut dia, sektor pertanian rakyat harus menjadi bagian utama dari rantai ekonomi pariwisata yang berkembang pesat di Labuan Bajo.
“Kami sudah membentuk satu peraturan daerah yang sangat strategis yaitu Perda Nomor 4 Tahun 2025,” kata anggota DPRD Gerindra itu.
Ia menjelaskan regulasi tersebut lahir dari keresahan petani di Manggarai Barat yang selama ini belum mendapatkan ruang memadai dalam sistem ekonomi daerah.
Menurut dia, keberadaan hotel, restoran, dan industri pariwisata semestinya menjadi pasar utama bagi produk-produk pertanian lokal masyarakat.
“Kalau hotel, restoran, dan pemerintah daerah membelanjakan uang daerah, maka harus mengutamakan produk petani lokal,” ujarnya.
Kanisius mengatakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani saat ini adalah persoalan pasar. Selain kualitas dan kuantitas produksi, kesinambungan pasokan produk lokal juga masih menjadi persoalan serius yang perlu dibenahi bersama.
Ia menilai kondisi tersebut harus dijawab melalui regulasi yang mampu mempertemukan kepentingan sektor pertanian dengan kebutuhan industri pariwisata yang terus tumbuh di Manggarai Barat.
“Kenapa kami membentuk peraturan daerah ini? Karena kami ingin menemukan gerbong besar pariwisata dengan produk lokal daerah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Kanisius juga menyoroti dampak perubahan ekonomi global yang mulai dirasakan hingga ke tingkat daerah.
Menurut dia, ketergantungan terhadap pasokan energi dan kondisi ekonomi dunia membuat masyarakat harus memperkuat ketahanan ekonomi lokal.
“Tantangan sekarang tidak seperti biasanya. Dunia sedang mengalami guncangan ekonomi,” ujarnya.
Ia menyebut sektor pertanian dan pangan lokal menjadi salah satu jawaban penting menghadapi tekanan ekonomi global, sekaligus menjaga daya tahan ekonomi keluarga di pedesaan.
Kanisius juga mengapresiasi gerakan perempuan tani yang selama ini aktif memperjuangkan isu pangan, lingkungan, dan pembangunan desa melalui wadah APIR.
Menurut dia, keterlibatan perempuan desa dalam pembangunan menjadi kekuatan penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat di tengah perubahan sosial dan tantangan iklim.
Workshop tersebut menjadi ruang diskusi antara perempuan desa, pemerintah daerah, DPRD, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas strategi pembangunan yang lebih inklusif dan berpihak pada masyarakat lokal.**






Tinggalkan Balasan