LABUANBAJOVOICE.COM – Pelaksanaan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Kabupaten Manggarai Barat masih menghadapi tantangan besar.
Hingga 31 Agustus 2026, capaian kinerja program tersebut baru mencapai 44,21 persen. Dari 1.183 keluarga sasaran, baru 523 keluarga yang tercatat telah menerima bantuan nutrisi.
Dengan demikian, masih terdapat 660 keluarga yang belum mendapatkan bantuan.
Data tersebut tercantum dalam rekapan laporan capaian kinerja GENTING tingkat Kabupaten Manggarai Barat per 31 Agustus 2026 yang diperoleh media.
Bantuan nutrisi yang telah disalurkan mencakup 152 ibu hamil, 147 ibu menyusui, dan 224 anak bawah dua tahun atau baduta.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan program belum merata di seluruh wilayah Manggarai Barat.
Terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara kecamatan dengan capaian tertinggi dan wilayah dengan capaian terendah.
Kecamatan Mbeliling menjadi wilayah dengan capaian terbaik. Dari 34 keluarga sasaran, seluruhnya telah menerima bantuan nutrisi.
Realisasi program di Mbeliling mencapai 100 persen dan tidak ada lagi keluarga sasaran yang tercatat belum terjangkau.
Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Lembor dengan realisasi 88,31 persen. Dari 154 keluarga sasaran, sebanyak 136 keluarga telah menerima bantuan, sementara 18 keluarga masih tersisa.
Sementara itu, Kecamatan Sano Nggoang mencatat realisasi 74,78 persen. Dari 115 keluarga sasaran, sebanyak 86 keluarga telah menerima bantuan.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa percepatan intervensi dapat menghasilkan capaian tinggi apabila pendataan, penyaluran, dan pendampingan berjalan secara efektif.
Di sisi lain, sejumlah wilayah masih membutuhkan perhatian serius.
Kecamatan Pacar menjadi wilayah dengan capaian terendah. Dari 91 keluarga sasaran, belum ada satu pun keluarga yang tercatat menerima bantuan. Realisasinya masih 0 persen dengan 91 keluarga tersisa.
Dalam laporan tersebut, Kecamatan Pacar masuk kategori wilayah yang membutuhkan pembinaan dan pengawalan.
Kecamatan Kuwus Barat baru mencapai 6,25 persen. Dari 48 keluarga sasaran, baru tiga keluarga yang menerima bantuan.
Kecamatan Lembor Selatan juga masih mencatat capaian rendah, yakni 7,94 persen. Dari 126 keluarga sasaran, baru 10 keluarga yang menerima bantuan, sedangkan 116 keluarga masih tersisa.
Selanjutnya, Kecamatan Kuwus mencatat realisasi 15,49 persen, sementara Kecamatan Ndoso mencapai 21,93 persen.
Kepala Dinas P2KB Manggarai Barat, Rafael Guntur, mengatakan program GENTING membutuhkan kolaborasi berbagai pihak karena menyasar keluarga yang berisiko mengalami stunting.
“Gerakan ini melibatkan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pengusaha,” kata Rafael.
Menurut Rafael, DP2KB terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk memperluas dukungan terhadap program tersebut.
Dalam kegiatan di Wae Kelambu, PT Elnusa Petrofin menjadi salah satu perusahaan yang turut memberikan dukungan.
Supervisor PT Elnusa Petrofin, Ricky Susanto, mengatakan keterlibatan perusahaan merupakan bagian dari agenda tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Kami turut membantu program pemerintah Manggarai Barat, khususnya dalam upaya mengatasi stunting. Semoga apa yang kami berikan melalui DPPKB ini dapat bermanfaat bagi para ibu penerima bantuan,” ujarnya.
Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya bantuan, tetapi juga oleh ketepatan sasaran.
“Bantuan jangan hanya dilihat dari besar atau kecilnya. Jika tepat sasaran, bantuan tersebut merupakan bentuk nyata dari kewajiban,” ujarnya.
Dengan masih adanya 660 keluarga yang belum terjangkau, tantangan utama program GENTING di Manggarai Barat bukan sekadar menambah jumlah bantuan.
Pemerintah juga perlu memastikan bantuan benar-benar sampai kepada keluarga yang tepat, terutama di wilayah dengan capaian rendah.
Perbedaan capaian antarwilayah menjadi indikator perlunya strategi khusus. Kecamatan dengan capaian rendah membutuhkan pendampingan yang lebih intensif.
Sementara itu, capaian Mbeliling, Lembor, dan Sano Nggoang dapat menjadi pembelajaran dalam mempercepat realisasi program di wilayah lain.
Bagi pemerintah daerah, percepatan tersebut penting karena intervensi stunting berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan.**





Tinggalkan Balasan