Menurut Andhy, pengalaman berjalan kaki dan berinteraksi dengan masyarakat memberikan nilai tambah yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga spiritual dan sosial.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan paket perjalanan wisata berbasis minat khusus di Flores, termasuk wisata religi yang melibatkan desa wisata, pelaku UMKM, komunitas budaya, dan masyarakat setempat.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga mengapresiasi penyelenggaraan Camino de Flores dan berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.
Menurutnya, keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang merupakan kesempatan untuk memperkenalkan potensi Flores sekaligus membangun jejaring yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam konteks pelestarian budaya, pengembangan pariwisata perlu diarahkan agar tidak hanya memperkenalkan warisan lokal kepada pengunjung, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi mereka.
Dukungan terhadap rumah tenun di Kelibara dan revitalisasi rumah adat di Wologeru menjadi salah satu contoh bagaimana perjalanan wisata dapat dihubungkan dengan pelestarian budaya.





Tinggalkan Balasan