Kegiatan ini berlangsung selama empat hari dengan melintasi Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende. Para peserta menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer, termasuk perjalanan terakhir menuju Puncak Danau Kelimutu dan Desa Wisata Waturaka dengan jarak sekitar 13 kilometer.

Selain menyusuri destinasi alam, peserta juga mengunjungi Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, Ende, yang berkaitan dengan masa pengasingan Soekarno pada 1934–1938.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui Misa Penutupan Camino de Flores yang dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, di Gereja Katedral Kristus Raja.

Perjalanan ini mempertemukan pengalaman spiritual dengan kekayaan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat di sepanjang rute.

Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, menilai Camino de Flores memperlihatkan potensi pengembangan pariwisata yang menghubungkan destinasi dengan kehidupan masyarakat lokal.

“Camino de Flores menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, mengenal warisan budaya, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah yang dikunjungi.” ujar Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, Rabu (28/10/2026).