LABUANBAJOVOICE.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Komodo Labuan Bajo mengingatkan pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi gelombang di sejumlah perairan Labuan Bajo, kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), dan Selat Sape.

Peringatan tersebut disampaikan Kepala Kantor BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Komodo Labuan Bajo, Maria Patrycia Christin Seran, dalam keterangannya kepada media di Labuan Bajo, Senin (10/8/2026).

Prakiraan cuaca wilayah perairan tersebut berlaku selama tiga hari, yakni 11-13 Agustus 2026.

Maria mengatakan, kondisi gelombang di masing-masing wilayah perairan menunjukkan karakteristik yang berbeda. Perairan Labuan Bajo relatif lebih tenang, sementara sejumlah kawasan di Selat Sape berpotensi mengalami gelombang yang lebih tinggi.

“Dihimbau kepada para pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang serta peningkatan kecepatan angin (gust) yang dapat terjadi sewaktu-waktu.” ujarnya.

Perairan Labuan Bajo Relatif Rendah

Untuk Perairan Labuan Bajo, tinggi gelombang pada 11 Agustus 2026 diprakirakan sekitar 0,4 meter.

Pada 12 Agustus, gelombang berkisar 0,4-0,5 meter, kemudian kembali sekitar 0,4 meter pada 13 Agustus.

Kondisi tersebut menunjukkan perairan Labuan Bajo berada pada kisaran gelombang relatif rendah selama periode prakiraan.

Gelombang Taman Nasional Komodo Mencapai 1,7 Meter

Berbeda dengan Perairan Labuan Bajo, kondisi di Perairan Taman Nasional Komodo diprakirakan lebih dinamis.

Pada 11 Agustus, tinggi gelombang berkisar 1,3-1,4 meter. Sehari berikutnya, gelombang diprakirakan meningkat menjadi 1,4-1,7 meter.

Pada 13 Agustus, tinggi gelombang diprakirakan berada pada kisaran 1,2-1,4 meter.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena aktivitas wisata bahari di kawasan Taman Nasional Komodo melibatkan berbagai jenis kapal dan perahu, termasuk kapal wisata yang membawa wisatawan menuju sejumlah destinasi.

BMKG sendiri mengategorikan gelombang 1,25-2,5 meter sebagai gelombang sedang, sehingga kondisi tersebut perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan keselamatan pelayaran.

Selat Sape Bagian Utara Berfluktuasi

Di Selat Sape bagian utara, tinggi gelombang pada 11 Agustus diprakirakan berkisar 0,9-1,7 meter.

Pada 12 Agustus, gelombang diprakirakan menurun menjadi 0,6-1,3 meter, kemudian kembali berada pada kisaran 0,6-1,1 meter pada 13 Agustus.

Sementara itu, perhatian lebih besar perlu diberikan terhadap Selat Sape bagian selatan.

Selat Sape Selatan Capai 2,4 Meter

BMKG memprakirakan tinggi gelombang di Selat Sape bagian selatan mencapai 2,1-2,4 meter pada 11 Agustus 2026.

Kondisi tersebut masih berpotensi bertahan pada 12 Agustus dengan tinggi gelombang 1,7-2,4 meter.

Pada 13 Agustus, gelombang diprakirakan mulai menurun menjadi 1,5-1,8 meter.

Dengan tinggi maksimum mencapai 2,4 meter, kondisi Selat Sape bagian selatan menjadi salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian lebih serius dari operator kapal, nelayan maupun pengguna jasa transportasi laut.

Secara umum, BMKG menetapkan rentang 1,25-2,5 meter sebagai kategori gelombang sedang, sehingga aktivitas pelayaran tetap perlu memperhitungkan kondisi kapal, kecepatan angin dan faktor laut lainnya.

Maria juga menegaskan, kewaspadaan tidak hanya diperlukan terhadap tinggi gelombang. Pengguna perairan juga diminta memperhatikan kemungkinan peningkatan kecepatan angin yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Mengingat karakteristik Perairan Kepulauan Taman Nasional yang memiliki arus cukup kuat, para nakhoda dan nelayan dihimbau untuk memperhatikan Jadwal Pasang Surut yang dapat menyebabkan perubahan kecepatan serta arah arus secara mendadak dan berisiko mempengaruhi stabilitas kapal.” tegasnya.

Menurut dia, tinggi gelombang merupakan salah satu parameter penting dalam keselamatan pelayaran karena kondisi gelombang dapat memengaruhi stabilitas kapal, khususnya kapal berukuran kecil.

Karena itu, operator kapal dan nakhoda diharapkan tidak hanya mengandalkan kondisi perairan saat keberangkatan, tetapi terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi laut selama melakukan pelayaran.

Maria menyampaikan, informasi mengenai kondisi perairan akan terus diperbarui untuk menyesuaikan perkembangan prakiraan cuaca.

“Tiap hari akan kami perbarui ringkasannya menyesuaikan prakiraan dari Tenau Kupang.” ungkap Maria.

Pembaruan tersebut menjadi penting mengingat kondisi cuaca dan laut dapat mengalami perubahan, sehingga informasi terbaru diperlukan sebagai salah satu pertimbangan sebelum kapal melakukan aktivitas pelayaran.

BMKG menyediakan informasi prakiraan cuaca maritim dan peringatan gelombang melalui layanan informasi maritimnya.

Untuk periode 11-13 Agustus 2026, pengguna perairan Labuan Bajo dan sekitarnya terutama diminta mencermati kondisi Taman Nasional Komodo serta Selat Sape bagian selatan, di samping tetap memperhatikan perkembangan angin, pasang surut dan arus.

Keselamatan pelayaran, kata BMKG, harus menjadi prioritas sebelum kapal meninggalkan pelabuhan maupun ketika melakukan aktivitas di tengah perairan.**