LABUANBAJOVOICE.COM – Masyarakat Adat Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, resmi mengukuhkan Arif sebagai Tua Golo atau Kepala Kampung Adat Sernaru dalam prosesi adat yang berlangsung khidmat pada Jumat malam, 19 Juni 2026.

Pengukuhan tersebut menjadi tonggak penting dalam keberlanjutan kepemimpinan adat di Kampung Sernaru setelah wafatnya almarhum Muhamad Sidik, yang sebelumnya menjabat sebagai Tua Golo.

Prosesi sakral digelar di kediaman Arif dan dihadiri tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta sejumlah pemimpin kampung adat dari wilayah Kedaluan Nggorang.

Ritual pengukuhan dipimpin langsung Fungsionaris Adat Nggorang, Haji Ramang Ishaka, didampingi Wakil Fungsionaris Adat Nggorang, Muhamad Syair.

Kehadiran kedua pemangku adat tersebut menegaskan legitimasi adat terhadap kepemimpinan baru di wilayah Sernaru.

Dalam prosesi tersebut, Arif menerima sejumlah simbol kehormatan adat berupa sarung adat (lipa), tikar adat (ca loce matang), seekor ayam jantan putih (manuk bakok), dan uang adat (jerek beo).

Bagi masyarakat Manggarai, simbol-simbol tersebut bukan sekadar perlengkapan ritual. Sarung adat melambangkan kehormatan dan martabat pemimpin, tikar adat menjadi simbol musyawarah dan kebersamaan, ayam jantan putih melambangkan ketulusan serta kesucian niat, sedangkan uang adat menjadi tanda kepercayaan masyarakat kepada pemimpin dalam mengelola kehidupan sosial dan wilayah adat.

Sebelum pengukuhan dilakukan, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan ritual Kepok, tradisi penyambutan khas Manggarai yang menggunakan tuak dan ayam jantan sebagai simbol penghormatan kepada pemimpin adat yang menerima amanah baru.

Dalam sambutannya, Haji Ramang Ishaka menegaskan bahwa pengukuhan Arif merupakan keputusan masyarakat adat Kampung Sernaru yang mendapat pengakuan penuh dari struktur adat Kedaluan Nggorang.

“Mewakili 14 anak kampung di Kedaluan Nggorang, saya sebagai fungsionaris adat mengukuhkan saudara Arif menjadi Tua Golo Sernaru menggantikan almarhum Muhamad Sidik,” kata Haji Ramang.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan semangat kekeluargaan sebagai kekuatan utama masyarakat adat.

“Kebersamaan dan persaudaraan adalah fondasi utama kehidupan masyarakat. Karena itu, saya mengajak seluruh warga untuk terus menjaga persatuan, saling menghormati, dan hidup dalam semangat kekeluargaan,” ujarnya.

Sementara itu, Arif mengaku menerima amanah tersebut dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab.

Menurutnya, jabatan Tua Golo bukan sekadar posisi adat, melainkan kepercayaan besar yang harus dijalankan demi kepentingan seluruh masyarakat.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Ini adalah amanah yang berat, tetapi saya menerimanya dengan tulus dan siap menjalankannya demi kepentingan masyarakat Kampung Sernaru,” ujarnya.

Arif menegaskan bahwa salah satu prioritas yang akan dijalankannya adalah menjaga persatuan masyarakat adat serta membangun kerja sama yang harmonis di tengah warga.

“Saya siap menerima masukan dari seluruh masyarakat dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan sosial maupun kegiatan lainnya demi kemajuan kampung,” katanya.

Usai prosesi pengukuhan, dilakukan penandatanganan berita acara sebagai bentuk pengesahan adat atas jabatan Tua Golo Sernaru.

Acara kemudian ditutup dengan ritus adat sebagai ungkapan syukur kepada leluhur dan dilanjutkan makan bersama yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Wae Kelambu Marselinus Pura, mantan Camat Komodo Imran, mantan Lurah Wae Kelambu Markus Randu, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan Tua Golo dari sejumlah kampung di wilayah Kedaluan Nggorang.

Dalam struktur sosial masyarakat Manggarai, Tua Golo memiliki peran yang sangat strategis. Selain menjadi pemimpin adat, Tua Golo bertanggung jawab menjaga tanah ulayat, menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat, memimpin ritus adat, serta menjadi penjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Pengukuhan Arif sebagai Tua Golo Sernaru menjadi bukti bahwa eksistensi lembaga adat di Manggarai Barat tetap kuat di tengah perkembangan zaman.

Tradisi, nilai persaudaraan, serta kearifan lokal terus dijaga dan diwariskan sebagai fondasi kehidupan masyarakat adat untuk generasi mendatang.**