LABUANBAJOVOICE.COM — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Maria Caecilia Stevi Harman, menyalurkan bantuan logistik dan obat-obatan bagi warga terdampak gempa di wilayah Reo, Kabupaten Manggarai serta Pota, dan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Flores), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain membantu kebutuhan mendesak para pengungsi, Stevi juga mendorong pemerintah mempercepat pemulihan fasilitas publik yang mengalami kerusakan akibat gempa, terutama fasilitas kesehatan dan jaringan air bersih.
Stevi menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Sebagian warga memilih mengungsi karena rumah mereka mengalami kerusakan, sementara sebagian lainnya masih diliputi kekhawatiran terhadap gempa susulan.
“Saya mengucapkan turut berbelasungkawa atas korban dan bersimpati terhadap mereka yang sekarang ada di pengungsian. Banyak sekali yang mengungsi antara takut gempa susulan atau rumahnya roboh,” kata Stevi, Minggu (16/8).
Di tengah situasi tersebut, senator muda yang akrab disapa Stevi itu mengapresiasi langkah cepat pemerintah pusat dalam menangani fase akut atau masa tanggap darurat bencana.
Menurut Stevi, penanganan tersebut melibatkan koordinasi lintas lembaga, termasuk DPD RI, DPR RI, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Koordinasi tersebut, kata dia, mulai menunjukkan hasil di lapangan. Sebanyak 50.000 paket sembako bantuan Presiden telah disalurkan kepada masyarakat terdampak. Sejumlah menteri juga telah turun langsung untuk memantau kondisi wilayah yang mengalami dampak gempa.
Namun, Stevi menilai kebutuhan warga tidak berhenti pada bantuan pangan. Kondisi fasilitas kesehatan yang terdampak membuat kebutuhan obat-obatan menjadi persoalan penting yang harus segera ditangani.
Karena itu, ia turut menyalurkan sembako dan kebutuhan medis darurat secara langsung ke sejumlah posko pengungsian.
“Saya memberikan obat-obatan karena banyak puskesmas dan fasilitas kesehatan yang terdampak. Obat-obatan sulit didapatkan para pengungsi. Jadi, sudah saya berikan ke posko-posko di Reo, Pota, dan menyusul nanti Lamba Leda,” ujarnya.
Stevi memberikan perhatian khusus terhadap kondisi warga di Lamba Leda. Wilayah tersebut masih merasakan gempa susulan sehingga menambah kecemasan masyarakat.
Situasi tersebut juga menjadi ruang munculnya informasi yang tidak benar di tengah masyarakat. Informasi mengenai potensi gempa susulan yang lebih besar hingga ancaman tsunami beredar dan berpotensi memperbesar kepanikan warga.
Stevi meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Ia mengingatkan warga agar menjadikan informasi resmi dari lembaga berwenang sebagai rujukan utama selama masa penanganan bencana.
“Jangan menyebar hoaks dan jangan menyebar kepanikan. Ikuti saja berita yang disebarkan oleh BMKG, BNPB, BPBD, dan orang-orang yang dipercaya,” tegasnya.
Stevi menilai penanganan bencana harus dipersiapkan sejak masa tanggap darurat berakhir. Fase rehabilitasi dan rekonstruksi harus menjadi perhatian pemerintah agar masyarakat tidak terlalu lama berada dalam kondisi ketidakpastian.
Ia berkomitmen terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengawal proses pemulihan masyarakat terdampak gempa.
Menurut Stevi, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan sembako, obat-obatan, dan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian.
Aspek psikologis juga harus menjadi bagian penting dalam penanganan, terutama bagi anak-anak yang mengalami trauma akibat gempa dan harus tinggal sementara di pengungsian.
Pemulihan trauma dinilai penting agar anak-anak dapat kembali menjalani aktivitas secara normal setelah situasi kebencanaan berangsur membaik.
Selain persoalan psikologis, Stevi juga mendesak pemerintah mempercepat pemulihan layanan dasar. Kerusakan sumber air, jaringan pipa air bersih, hingga fasilitas puskesmas harus segera diperbaiki.
Pemulihan fasilitas tersebut menjadi penting karena berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terdampak.
Stevi juga menyoroti tahap berikutnya, yakni pembangunan kembali rumah warga yang rusak. Menurutnya, koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus diperkuat agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan efektif.
“Nanti yang terakhir, bagaimana respons pemerintah pusat dan koordinasi dengan daerah untuk membangun kembali rumah-rumah yang rusak,” pungkas Stevi.**





Tinggalkan Balasan