LABUANBAJOVOICE.COM — Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, akhirnya berakhir. Calon nomor urut 1, Sukarman, terpilih sebagai Kepala Desa Golo Mori setelah unggul tipis atas pesaing terdekatnya dalam pemungutan suara, Selasa, 29 September 2026.

Sukarman yang berusia 34 tahun memperoleh 493 suara. Ia unggul 19 suara dari Mohamad Jahidin yang meraih 474 suara.

Sementara itu, dua kandidat lainnya, Abdul Arsat dan Muhamad Said G., masing-masing memperoleh 281 suara dan 58 suara.

Kemenangan Sukarman turut ditopang perolehan suara di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS). Di TPS 3 Raong, Sukarman mengumpulkan 100 suara. Adapun di TPS Jarak, ia memperoleh 282 suara.

Terpilihnya Sukarman menjadi babak baru bagi pemerintahan Desa Golo Mori. Ia membawa latar belakang akademik dan pengalaman organisasi sebagai modal untuk menjalankan pemerintahan desa.

Sukarman merupakan lulusan Magister Administrasi Publik (MAP) Universitas Islam Malang (UNISMA), Jawa Timur. Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Sosiologi di STKIP Bima pada 2017.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Jarak dan SMPN Satap Jarak, sebelum melanjutkan pendidikan menengah di SMAN 1 Komodo.

Sukarman juga pernah menjabat sebagai Ketua PMII Cabang Bima. Ia merupakan putra Abdul Karim, yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Golo Mori selama dua periode, yakni 1988 hingga 1999.

Salah satu gagasan utama yang dibawa Sukarman adalah menjadikan Golo Mori sebagai desa mandiri.

Gagasan tersebut disampaikan dalam rangkaian kampanye sebelum pemilihan, termasuk saat kampanye akbar di Kampung Jarak, Rabu, 23 September 2026. Lebih dari 400 pendukung hadir dalam kegiatan tersebut.

Dukungan datang dari sejumlah kampung di wilayah Golo Mori, antara lain Soknar, Lenteng, Jarak, Lo’ok, Nggoer, Ra’ong, Tao, hingga Compang.

Sebagai wilayah yang berada dalam kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas, Sukarman menilai pembangunan Golo Mori harus memberikan ruang yang besar bagi masyarakat lokal.

Ia berkomitmen agar warga tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata di wilayah tersebut.

Sukarman juga berjanji menghidupkan kembali Karang Taruna yang sempat mengalami kevakuman. Menurut gagasannya, pemuda harus diberikan ruang untuk terlibat dalam pengelolaan potensi desa.

Selain pariwisata, pembangunan ekonomi masyarakat juga diarahkan pada sektor pertanian, perikanan tangkap, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, Sukarman mengedepankan pendekatan kultural melalui musyawarah mufakat adat atau Lonto Leok.

Persoalan sosial masyarakat akan diupayakan diselesaikan secara kekeluargaan bersama Tu’a Golo atau tetua adat. Hukum positif ditempatkan sebagai jalan terakhir apabila persoalan tidak dapat diselesaikan melalui mekanisme sosial dan adat.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Ekin, tokoh masyarakat dari Kampung Tao.

“Gelar Magisternya membuat ia paling tepat memimpin desa ini. Sebelum mencalonkan diri pun, beliau adalah tokoh kunci di balik perumusan RPJMDes dan RKPDes Golo Mori,” tegas Ekin, Rabu (30/9/2026).

Dukungan lainnya disampaikan Hilarius S. Yance D., perwakilan Kampung Nggoer. Ia menilai visi pariwisata yang dibawa Sukarman berpijak pada prinsip kelestarian, kemakmuran, dan daya saing.

Mengutip pemikiran Gus Dur, Hilarius juga menekankan pentingnya integritas dalam kehidupan politik desa.

“Politik harus membawa kebahagiaan. Jangan sampai keakraban sosial kita dirusak oleh politik sesaat,” tuturnya.

Setelah memastikan kemenangan dalam Pilkades Golo Mori, Sukarman menekankan pentingnya menjaga persaudaraan masyarakat.

Ia mengibaratkan Desa Golo Mori sebagai sebuah “Rumah Besar” yang dihuni masyarakat dengan latar belakang dan pilihan politik yang beragam.

Perbedaan pilihan dalam pemilihan kepala desa, menurut pesan yang disampaikannya, tidak boleh menjadi alasan untuk merusak hubungan kekeluargaan.

“Sejatinya politik itu hanya sesaat, selesainya ya di tanggal 29 ini. Jangan gara-gara politik, ikatan keluarga kita hancur. Ke depan, kebersamaan inilah yang akan terus kita pupuk,” pungkas Sukarman.

Dengan berakhirnya proses pemilihan, perhatian masyarakat kini beralih pada pelaksanaan pemerintahan desa serta realisasi berbagai gagasan pembangunan yang telah disampaikan selama kontestasi Pilkades.

Bagi Golo Mori, tantangan berikutnya bukan lagi soal memenangkan pemilihan, melainkan menjaga persatuan masyarakat sekaligus menerjemahkan visi pembangunan desa menjadi program yang memberi manfaat bagi seluruh warga.**