LABUANBAJOVOICE.COM — Anggota DPRD Manggarai Barat dari Fraksi Gerindra, Dr. Kanisius Jehabut, melaksanakan Reses DPRD Masa Sidang III Tahun 2025/2026 di Kompleks Santo Damian, Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Rabu malam, 12 Agustus 2026.
Reses tersebut menjadi ruang bagi Kanisius, anggota DPRD Manggarai Barat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, untuk bertemu langsung dengan masyarakat sekaligus mendengarkan aspirasi dan berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Ini merupakan pelaksanaan reses pertama Kanisius di Kompleks Santo Damian. Ia hadir bersama rombongan dan turut didampingi perwakilan Forum Keagenan Kapal (FOKAL) Labuan Bajo, Wahyu D.
Kehadiran rombongan disambut hangat masyarakat setempat yang terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak, kalangan muda hingga tokoh masyarakat.
Sebelum tatap muka reses berlangsung, Kanisius berkolaborasi dengan FOKAL Labuan Bajo membantu masyarakat melalui pembangunan rabat jalan menggunakan mesin molen atau concrete mixer.
Rabat jalan semen tersebut membentang sekitar 70 meter di tengah kampung dan menjadi salah satu bentuk dukungan nyata sebelum agenda dialog reses dimulai.
FOKAL: Bantuan Berangkat dari Niat Membantu
Mewakili FOKAL Labuan Bajo, Wahyu D. menyampaikan apresiasi kepada Kanisius karena telah membuka ruang bagi pihaknya untuk ikut berkontribusi bagi masyarakat di wilayah Nggorang.
“Terima kasih kepada Pak Kanis yang telah mengajak kami berkontribusi bagi warga sekitar. Apa pun yang dapat kami berikan, mohon tidak dilihat dari besar kecilnya, melainkan dari niat tulus kami untuk membantu warga di sini.” ujarnya didepan masyarakat setempat.
Wahyu mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan menjadi awal dari kontribusi FOKAL di wilayah tersebut.
“Ini merupakan langkah awal. Ke depannya, setelah dibuka jalan dan dijembatani oleh Pak Kanis, semoga jika diberikan rezeki lebih, kami dapat kembali lagi untuk membantu.” kata Wahyu.
Menurut dia, aktivitas usaha tidak semata-mata diarahkan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk membantu masyarakat.
“Pada dasarnya, kami menjalankan usaha tidak hanya demi keuntungan pribadi, tetapi juga berupaya memikirkan cara membantu sesama.” jelasnya.
Selama ini, kata Wahyu, FOKAL lebih banyak melakukan kegiatan sosial di kawasan pesisir karena bidang kerja mereka berkaitan dengan sektor kepelabuhanan.
“Selama ini, kami dari Fokal berfokus di kawasan pesisir karena basis kerja kami berada di sektor kepelabuhanan, seperti membantu pengurusan legalitas kapal nelayan di pulau-pulau.” ungkapnya.
Melalui pertemuan dengan Kanisius, jangkauan kontribusi tersebut kemudian diperluas ke masyarakat di wilayah daratan.
“Alhamdulillah, melalui Pak Kanis, jangkauan kegiatan kami kini tidak terbatas pada masyarakat nelayan saja, tetapi juga menyasar kawasan pegunungan, khususnya di Nggorang. Bagi kami, berbuat kebaikan tidak memandang latar belakang, melainkan untuk seluruh masyarakat. Selagi kami mampu berkontribusi, tentu akan kami lakukan.” ujarnya.
Wahyu juga menyampaikan terima kasih atas sambutan masyarakat dan peran Kanisius yang mempertemukan FOKAL dengan warga setempat.
“Mewakili rekan-rekan dari Fokal, saya mengucapkan terima kasih atas penyambutan yang sangat luar biasa ini. Terima kasih kepada Kepala Desa atas sambutannya serta Pak Kanis yang telah menjembatani kehadiran kami. Semoga ke depannya kita dapat terus berkontribusi di wilayah ini. Terima kasih sekali lagi.” ucap Wahyu.
Santo Damian Ingin Menjadi Kampung Ramah Disabilitas
Dalam sesi dialog, Yosef Jaga menyampaikan kondisi dan harapan masyarakat yang tinggal di Kompleks Santo Damian kepada Kanisius.
Ia menjelaskan bahwa penghuni kompleks tersebut berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.
“Jadi, kehadiran kami di sini dari latar belakang berbeda, kemudian dari daerah berbeda. Dari Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, bahkan dari Palembang, Sumatra—Pulau Sumatra. Jadi ada di sini.” ujarnya.
Menurut Yosef, keberadaan mereka dipersatukan oleh Suster Pervula yang mengajarkan pentingnya mendoakan para donatur dan orang-orang yang telah berbuat baik.
“Kami dipersatukan oleh seorang ibu bernama Suster Pervula. Dan daripadanya, kami diajarkan untuk senantiasa berdoa, terutama untuk para donatur dan orang yang telah berjasa baik.” jelasnya.
Ia mengatakan, keberadaan Lembaga Santo Damian selama ini tidak terlepas dari dukungan para donatur.
“Jadi, terus terang saja, kami di sini hidup dari orang-orang baik. Tempat yang kami tinggal, yang kami huni di sini, itu pemberian orang. Orang dari Jerman melalui tangan Suster Pervula.” kata Yosef.
Yosef kemudian menyampaikan cita-cita menjadikan lingkungan tersebut sebagai kampung inklusif yang dapat menerima masyarakat dengan berbagai latar belakang dan ragam disabilitas.
“Terus, dalam perjalanan… karena cita-cita kita di sini juga, kita jadikan kampung ini menjadi kampung inklusif yang menerima semua orang dari berbagai latar belakang, dari berbagai ragam disabilitas. Kita menerima semua dan kita canangkan kampung ini menjadi kampung yang ramah disabilitas.” ungkapnya.
Menurut dia, pembangunan akses jalan menjadi bagian penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
“Dan puji Tuhan, perlahan hal itu mulai terjadi. Hal-hal yang kita lihat sekarang terlaksana dengan pembangunan jalan, dan yang terjadi sekarang ini ada peningkatannya.” ucapnya dengan bahagia.
Ia berharap akses yang semakin baik membuat kawasan tersebut dapat dijangkau pengguna kursi roda, kruk dan masyarakat dengan ragam disabilitas lainnya.
“Maka ke depan, kami dengan semangat menyampaikan kepada teman-teman, terutama teman-teman pengguna kursi roda, bahwa di tempat kami menjadi benar-benar ramah disabilitas karena bisa dijangkau oleh teman-teman pengguna kursi roda dan bisa dijangkau oleh semua teman-teman dari ragam disabilitasnya masing-masing.” ujarnya.
Yosef juga menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan melalui reses Kanisius dan dukungan FOKAL Labuan Bajo.
“Jadi, untuk peningkatan dan pemberian yang telah diberikan, baik dari anggota DPRD melalui Reses III-nya, maupun dari para donatur yang diwakili Pak Wahyu dari agen Fokal, kami mengucapkan terima kasih banyak. Kami hanya bisa membalas dengan doa, semoga Tuhan senantiasa memberikan rahmat dan rezekinya untuk kehidupan kita di hari-hari yang akan datang.” ucapnya.
Kanisius: Reses Harus Menjadi Ruang Mendengar Aspirasi
Dalam sambutannya, Kanisius mengatakan kunjungan ke Nggorang merupakan pengalaman sangat luar biasa dalam pelaksanaan reses di wilayah tersebut.
Ia mengaku senang dapat bertemu langsung dengan masyarakat dan mendengar berbagai persoalan yang mereka sampaikan.
“Ya, Bapak dan Ibu, puji syukur kepada Tuhan karena atas berkat-Nya kita semua boleh berkumpul di sini dalam keadaan sehat dan bahagia. Saya membangga bisa hadir di sini, senang sekali bisa berjumpa dengan Bapak Ibu dan bisa bersua. Hari ini kita bisa bercerita apa saja dan saya senang mendengarnya.” ucapnya.
Kanisius mengakui masyarakat memiliki banyak harapan terhadap pelaksanaan reses. Namun, ia menegaskan tidak seluruh aspirasi dapat langsung direalisasikan karena keterbatasan dan berbagai pertimbangan.
Menurut Kanisius, reses merupakan bagian penting dari fungsi DPRD karena menjadi kesempatan anggota dewan turun langsung ke tengah masyarakat.
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, sebagaimana disampaikan tadi, reses itu adalah saat di mana kami mendengarkan aspirasi masyarakat, begitu. Jadi kalau selama ini kami bersidang di ruang sidang, sekarang DPRD itu turun sidang langsung di masyarakat, begitu.” ucapnya.
Ia menilai aspirasi masyarakat menjadi bahan penting dalam proses pembahasan kebijakan di DPRD.
“Kalau di dewan sana kami bertengkar pikiran terkait dengan kebijakan daerah, sekarang kami mendengarkan sehingga apa yang kami pertengkarkan di sana itu sumbernya jelas, itu dari masukan-masukan, pikiran-pikiran dari masyarakat.” tegasnya.
Kanisius Soroti Ketahanan Pangan Manggarai Barat
Dalam kesempatan tersebut, Kanisius juga mengangkat persoalan ketahanan pangan sebagai salah satu agenda yang menurutnya penting bagi Manggarai Barat.
Sebagai Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Manggarai Barat, ia mengatakan baru terdapat satu perda inisiatif DPRD yang dihasilkannya dan memilih sektor pangan sebagai salah satu prioritas.
“Tapi sepanjang saya di DPRD, saya baru menghasilkan satu perda inisiatif DPRD. Bukan berarti kita tidak bisa buat banyak, bisa sekali, tapi saya menganggap bahwa Perda paling prioritas itu adalah tentang pangan.” ujarnya.
Kanisius mengaitkan persoalan pangan dengan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan dari luar daerah maupun luar negeri.
Ia kemudian menyoroti kondisi sektor pertanian Manggarai Barat yang dinilainya belum sepenuhnya terhubung dengan pertumbuhan industri pariwisata Labuan Bajo.
Menurut Kanisius, sektor pariwisata berkembang pesat, sementara sektor pertanian sebagai sektor riil belum mengalami pertumbuhan yang sebanding.
“Padahal kita punya lahan pertanian besar. Sekitar 70 sekian persen warga Manggarai Barat itu adalah orang yang berlatar belakang petani, begitu. Petani, tapi hasil kita tidak tersambung dengan pariwisata, begitu.” kata Kanisius.
Ia mempertanyakan sejauh mana pertumbuhan pariwisata memberikan dampak langsung terhadap masyarakat lokal.
“Kita bangga toh pariwisata? Tapi apakah berkontribusi terhadap Manggarai Barat? Saya bilang tidak. Karena pertumbuhan ekonomi kita itu di pariwisata tinggi, hampir tembus 8%, itu 7,96 BPS. Itu pertumbuhan ekonomi kita di pariwisata. Tapi di sektor pertanian, sektor riil kita itu, stagnan, tidak bergerak. Sehingga tidak heran kalau kita miskin. Ada yang salah? Ya.” ujarnya.
Dorong Tata Kelola Pariwisata Lebih Adil
Kanisius juga menjelaskan latar belakang dirinya mendorong pembentukan panitia khusus atau pansus terkait tata kelola pariwisata di Manggarai Barat.
Ia mengatakan perkenalannya dengan FOKAL Labuan Bajo berawal dari diskusi mengenai persoalan kapal wisata yang kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai tata kelola pariwisata.
“Saya berjumpa pertama kali dengan FOKAL ini ketika saya berulang kali menulis tentang kapal wisata, begitu. Timbul perdebatan dalam Facebook saya itu, ah apa namanya, dan itu baik. Itu baik, kemudian kami berdialog, berdiskusi banyak hal yang akhirnya saya menemukan satu poin yang harus kita sama-sama memikirkan di Manggarai Barat ini, yaitu tentang tata kelola pariwisata, begitu.” katanya.
Ia menyebut dirinya sebagai salah satu inisiator usulan pansus tata kelola pariwisata di DPRD Manggarai Barat.
“Sehingga mungkin ada baca di media, mungkin saya selalu sering menulis tentang pansus tata kelola pariwisata. Saya adalah orang inisiator untuk apa namanya mengusulkan pansus itu dalam Paripurna DPRD. Nah sekarang sedang berjalan.” jelas Kanisius.
Menurut Kanisius, pertumbuhan investasi dan aktivitas pariwisata harus diikuti dengan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat Manggarai Barat.
“Sehingga kalau dengar saya selalu bertengkar, saya selalu bertengkar dengan pemerintah, ya itu dasar, salah satu dasarnya. Sehingga saya berjuang supaya kita buat buat itu pansus. Saya ingin memastikan bahwa harus adil dong.” ucapnya.
Ia menegaskan, perjuangan tersebut bukan ditujukan untuk menyalahkan pihak tertentu, tetapi untuk memastikan pertumbuhan pariwisata memberikan dampak yang lebih adil bagi masyarakat.
“Kita tidak bermaksud untuk saling menyalahkan, tetapi bagaimana kita bisa menata ini agar adil? Harus adil! Tidak bisa tidak adil, begitu.” tegasnya.
Kanisius juga mengaitkan pandangannya dengan konsep paradoks sumber daya alam, yakni kondisi ketika suatu wilayah memiliki sumber daya melimpah tetapi masyarakatnya belum menikmati kesejahteraan yang sebanding.
“Sehingga saya paham, begitu. Nah, itu yang terjadi.” ucapnya.
“Jadi sumber daya alamnya kaya, tapi rakyatnya miskin. Dan paradoks itu terjadi juga di kita sini.” ungkap Kanisius.
Ia memastikan Fraksi Gerindra di DPRD Manggarai Barat akan terus mendorong kebijakan yang dinilai berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Sehingga kami dari Fraksi Gerindra akan terus berjuang untuk memastikan harus adil, tidak bisa tidak, begitu, dengan segala keterbatasan kami 3 orang, begitu.” katanya.
Reses di Kompleks Santo Damian tersebut akhirnya tidak hanya menjadi forum penyampaian aspirasi politik, tetapi juga memperlihatkan pertemuan antara fungsi representasi DPRD, kepedulian pelaku usaha, dan kebutuhan masyarakat akan akses infrastruktur.
Pembangunan rabat jalan sekitar 70 meter menjadi contoh awal kolaborasi tersebut. Di sisi lain, aspirasi mengenai kampung ramah disabilitas, ketahanan pangan, serta tata kelola pariwisata memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat di tingkat kampung bersinggungan langsung dengan persoalan pembangunan Manggarai Barat secara lebih luas.
Bagi Kanisius, seluruh aspirasi itu menjadi bahan yang perlu dibawa kembali ke ruang pembahasan DPRD. Sementara bagi masyarakat Kompleks Santo Damian, akses jalan yang lebih baik diharapkan menjadi bagian dari proses panjang mewujudkan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua orang.**





Tinggalkan Balasan