LABUANBAJOVOICE.COM – Turnamen PSSI Cup II Manggarai Barat 2026 resmi berakhir pada Rabu (9/9/2026) setelah berlangsung selama kurang lebih 30 hari.
Di balik persaingan 27 klub, panitia menilai turnamen tersebut bukan hanya tentang kemenangan dan kekalahan.
PSSI Cup II juga menjadi ruang untuk membangun persaudaraan, sportivitas, serta kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat.
Ketua Harian Panitia PSSI Cup II Manggarai Barat 2026, Rofinus Edison Risal, mengatakan perjalanan turnamen diwarnai berbagai dinamika dan tantangan.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar muncul ketika bencana gempa melanda sejumlah wilayah Flores sekitar satu pekan setelah turnamen berlangsung.
“Dari situ kami belajar bahwa sepak bola tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaan. Kompetisi tetap penting, tetapi kepedulian terhadap sesama jauh lebih penting,” kata Rofinus dalam acara penutupan.
Selain situasi bencana, panitia juga menghadapi insiden pada babak semifinal yang menyebabkan pertandingan sempat terhenti sekitar dua hari.
Rofinus menyebut peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi penyelenggara dan seluruh peserta.
“Peristiwa tersebut tentu menjadi perhatian dan evaluasi bagi kami sebagai panitia. Bagi panitia, kejadian itu menjadi pembelajaran bahwa kompetisi membutuhkan komitmen bersama untuk menjaga keamanan, ketertiban, sportivitas, dan penghargaan terhadap aturan,” ujarnya.
Ia memahami setiap klub memiliki keinginan untuk memenangkan pertandingan. Namun, ambisi tersebut harus tetap berada dalam koridor sportivitas.
“Kami memahami bahwa setiap klub masing-masing ingin menang, setiap pemain ingin memberikan yang terbaik. Namun kita harus selalu ingat bahwa sehebat apapun sebuah pertandingan, pertandingan tetap harus berada di bawah nilai sportivitas dan persaudaraan,” katanya.
Rofinus mengatakan penyelenggaraan PSSI Cup II memberikan pengalaman bagi panitia dalam menghadapi tekanan, kritik, dinamika pertandingan, hingga penyelesaian berbagai persoalan.
“Sepuluh perjalanan ini telah mengajarkan banyak hal kepada kami tentang kompetisi, tanggung jawab, tekanan, caci maki, kritik, menyelesaikan persoalan, dan yang paling penting tentang menjaga persaudaraan di tengah perbedaan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan olahraga tidak semata-mata diukur dari siapa yang mengangkat trofi.
“Tujuan terbesar olahraga bukanlah hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi bagaimana kita belajar menang tanpa merendahkan, kalah tanpa menyerah, bertanding tanpa permusuhan, dan berbeda tanpa kehilangan persaudaraan,” tegasnya.
Ketua PSSI Manggarai Barat, Marianus Yono Jehanu, juga menyampaikan pesan kepada para pemain, official, manajer klub, pemilik klub, dan suporter.
Ia meminta seluruh pihak belajar dari dinamika yang terjadi selama kompetisi sehingga penyelenggaraan sepak bola ke depan dapat berlangsung lebih aman dan sportif.
“Para official, para manajer klub, atau pemilik klub ini, supaya menyampaikan ke teman-teman pemain, teman-teman supporter, supaya lebih dewasa lagi dalam menghadapi situasi dan dinamika yang terjadi di lapangan,” kata Yono.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan PSSI Cup II terdapat kekurangan dari panitia maupun perangkat pertandingan.
“Kami tidak sempurna, panitia tidak sempurna, wasit tidak sempurna, semua kita dari pihak keamanan juga tidak sempurna. Tapi satu kata saja dari kami PSSI: terima kasih banyak!” ujarnya.
Yono menyebut keberlangsungan turnamen tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak.
“Kami juga ucapkan terima kasih kepada penonton, supporter, yang sudah dengan caranya masing-masing juga sudah mendukung kegiatan ini,” katanya.
Sepak Bola sebagai Ruang Persaudaraan
PSSI Cup II Manggarai Barat 2026 akhirnya ditutup setelah mempertemukan 27 klub dalam kompetisi selama kurang lebih satu bulan.
Vamos Bajo FC menjadi juara setelah mengalahkan Wae Sambi FC dengan skor 2-1 pada partai grand final di Stadion Ora Flobamora, Labuan Bajo.
Terang FC meraih posisi ketiga setelah mengalahkan Black Crown FC pada pertandingan sebelumnya.
Bagi panitia, perjalanan satu bulan tersebut meninggalkan pesan bahwa sepak bola harus mampu menjadi ruang kompetisi sekaligus ruang membangun persaudaraan.**





Tinggalkan Balasan