LABUANBAJOVOICE.COM – Keluarga korban kecelakaan maut yang melibatkan dump truck dan sepeda motor di Jalan Trans Flores, dekat Pertamina Kampung Capi, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, mengaku kecewa terhadap sikap pemilik kendaraan yang dinilai belum menunjukkan itikad baik pasca-insiden tersebut.
Hingga memasuki malam kedelapan setelah korban berinisial M (42), warga Kampung Merombok, Desa Golo Bilas, meninggal dunia, pihak keluarga mengaku belum pernah didatangi maupun dihubungi oleh pemilik dump truck yang terlibat dalam kecelakaan itu.
Kecelakaan maut tersebut terjadi pada Selasa malam, 7 Mei 2026, di jalur utama Trans Labuan Bajo–Flores. Peristiwa itu memicu duka mendalam bagi keluarga korban karena M diketahui merupakan tulang punggung keluarga yang meninggalkan istri dan tiga anak.
Kekecewaan keluarga korban memuncak setelah pemilik kendaraan tidak hadir dalam agenda pertemuan yang dijadwalkan oleh penyidik Unit Penegakan Hukum (Gakkum) Satlantas Polres Manggarai Barat pada Selasa, 26 Mei 2026.
Perwakilan keluarga korban bahkan kembali mendatangi Markas Kepolisian Resor Manggarai Barat untuk meminta kejelasan penanganan perkara dan menuntut tanggung jawab dari pihak terkait.
Muhamad Rusli, adik kandung korban, mengatakan keluarga sebelumnya mendapat pemberitahuan dari penyidik terkait rencana pertemuan resmi antara keluarga korban dan pemilik dump truck.
“Semalam kami diberitahu oleh penyidik Kepolisian bahwa pada hari ini (Selasa 26 Mei 2026) akan diadakan pertemuan resmi antara pihak Keluarga Korban dengan Pemilik Dump Truck di kantor polisi untuk menyelesaikan persoalan ini,” kata Rusli kepada wartawan, Kamis, 28 Mei 2026.
Namun, kata Rusli, pemilik kendaraan tidak hadir dengan alasan masih berada di luar daerah.
“Namun, hari ini pemilik mobil dump truck tersebut tidak datang memenuhi panggilan dengan alasan bahwa beliau masih berada di Surabaya,” jelas Rusli.
Menurut keluarga korban, ketidakhadiran tersebut semakin memperkuat kesan minimnya empati dari pihak pemilik kendaraan terhadap keluarga yang sedang berduka.
Rusli menegaskan bahwa keluarga tidak hanya menyoroti kelalaian sopir, tetapi juga meminta tanggung jawab moral dan hukum dari pemilik kendaraan karena dump truck tersebut digunakan untuk kepentingan usaha.
“Kami tidak hanya bicara soal sopir, tetapi kami juga menunggu rasa kepedulian dari pemilik kendaraan. Kendaraan itu milik siapa, tentu ada pemiliknya,” kata Rusli.
“Sampai malam kedelapan ini, jangankan datang melayat, bentuk komunikasi atau iktikad baik dari pemilik mobil pun sama sekali tidak ada. Kami merasa sangat tidak dihargai,” sambungnya.
Ia menilai kehadiran pemilik kendaraan penting karena menyangkut masa depan keluarga korban yang kehilangan pencari nafkah utama.
“Kami kehilangan anggota keluarga, nyawa manusia sudah hilang. Kami menuntut agar pemilik damp truck tersebut keluar dan ikut bertanggung jawab,” tegas Rusli.
Rusli juga menyebut kendaraan tersebut beroperasi untuk kepentingan usaha pemilik sehingga tidak tepat apabila seluruh tanggung jawab hanya dibebankan kepada sopir.
“Kendaraan tersebut dioperasikan untuk kepentingan usaha atau operasional pemiliknya, jadi sangat tidak adil jika mereka bersembunyi di balik kelalaian sopir,” pungkasnya.
Keluarga korban berharap pihak kepolisian segera menjadwalkan ulang pertemuan dan mengambil langkah tegas agar proses penyelesaian perkara berjalan cepat, transparan, dan adil.
Mereka menegaskan akan terus mengawal proses hukum kasus kecelakaan maut tersebut hingga memperoleh kepastian dan rasa keadilan bagi keluarga korban.**





Tinggalkan Balasan