LABUANBAJOVOICE.COM — Kepala Desa Golo Mori, Samaila, memastikan dirinya tidak akan kembali mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Golo Mori 2026 meskipun masa jabatannya baru akan berakhir pada 20 Desember 2026.
Keputusan tersebut disampaikan Samaila saat diwawancarai media pada Rabu, 17 Juni 2026.
Sebagai petahana (incumbent), ia menegaskan pilihannya untuk tidak maju kembali dilandasi pertimbangan regenerasi kepemimpinan dan semangat memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk tampil membangun desa.
“Saya incumbent yang hari ini masih menjabat sebagai Kepala Desa Golo Mori sampai Desember 2026, tepatnya tanggal 20. Kalau ditanya alasan kenapa saya tidak maju, yang pertama saya mengamati proses demokrasi itu kalau tunggu delapan tahun baru diadakan lagi pemilihan, cukup lama dinanti oleh generasi-generasi berikutnya untuk tampil sebagai calon di ajang pilkades. Oleh karena itu, kali ini saya lebih legowo untuk mempersilakan orang lain lagi yang ingin maju,” kata Samaila.
Menurutnya, kepemimpinan merupakan faktor penting dalam menentukan arah kemajuan desa.
Namun, ia menilai sudah saatnya memberi ruang kepada tokoh dan generasi lain untuk mengambil peran.
Ia menjelaskan bahwa masa jabatannya yang semula enam tahun bertambah menjadi delapan tahun akibat penyesuaian regulasi pemerintah. Durasi tersebut dinilai cukup untuk mengabdikan diri dan menjalankan pembangunan desa.
“Menurut saya, waktu delapan tahun juga waktu yang cukup lama untuk kita berdedikasi memberikan sesuatu yang positif buat desa. Membangun desa sudah cukup lama,” ujarnya.
Selain faktor regenerasi, Samaila mengaku memiliki pertimbangan lain yang bersifat kekeluargaan.
Ia menyebut sejumlah figur yang maju dalam kontestasi Pilkades masih memiliki hubungan keluarga dengannya.
“Dari sisi pertimbangan kekeluargaan, karena yang maju semua ini keluarga semua. Kita lebih condong mempersilakan mereka untuk maju. Mungkin mereka nanti punya inovasi baru, pemikiran baru untuk mempersembahkan dedikasi mereka kepada Golo Mori, sehingga Golo Mori nanti lebih maju lagi dari sekarang,” katanya.
Saat ditanya apakah dirinya benar-benar ikhlas dengan keputusan tersebut, Samaila menjawab tegas.
“Ikhlas, ikhlas sekali,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa regenerasi kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam kehidupan demokrasi desa.
“Iya, untuk generasi. Supaya mereka lebih menunjukkan jati diri mereka bahwa mereka juga bisa membangun Golo Mori,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Samaila juga mengungkapkan bahwa Sekretaris Desa (Sekdes) Golo Mori termasuk salah satu figur yang akan maju dalam Pilkades mendatang.
“Pak Sekdes maju,” ujarnya singkat.
Menjelang tahapan Pilkades, Samaila mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan dan tidak terpecah hanya karena perbedaan pilihan politik.
Ia menegaskan bahwa Pilkades sejatinya merupakan pesta demokrasi yang harus disambut dengan kegembiraan dan semangat kekeluargaan.
“Mari kita ikuti pilkades ini dengan penuh rasa kekeluargaan karena ajang pilkades itu adalah ajang pesta demokrasi yang harus kita hargai, yang harus kita sambut dengan gembira. Jangan sampai gara-gara pilkades beda pilihan sehingga kekeluargaan ini bisa pecah,” katanya.
Menurutnya, perpecahan akibat politik desa hanya akan menghambat pembangunan yang sedang berjalan.
“Kalau kita pecah berarti kita tidak bisa membangun. Oleh karena itu, tatkala kita ingin membangun desa, kita harus bersatu. Perbedaan pilihan itu sudah mutlak karena memang demokrasi itu seperti itu. Tetapi jangan jadikan perbedaan di dalam pilkades akan terbawa terus sehingga nanti korban masyarakat,” tegasnya.
Samaila juga memberikan pesan khusus kepada panitia Pilkades agar menjaga integritas selama proses pemilihan berlangsung.
Menurutnya, panitia merupakan ujung tombak keberhasilan penyelenggaraan Pilkades yang demokratis dan bermartabat.
“Untuk panitia harus independen dan tetap netral. Karena mereka satu-satunya ujung tombak keberhasilan pilkades itu ada di panitia,” katanya.
Ia mengingatkan agar panitia tidak melayani kepentingan kandidat tertentu yang dapat mencederai proses demokrasi.
“Jangan ada terima pesanan. Misalnya ada kandidat yang memesan saya harus membuat sesuatu supaya saya menang, itu tidak bisa. Harus netral, tetap berada di atas aturan sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” tegas Samaila.
Keputusan Samaila untuk tidak kembali bertarung dalam Pilkades Golo Mori 2026 menjadi sinyal kuat dimulainya fase regenerasi kepemimpinan di desa tersebut.
Setelah memimpin selama delapan tahun, ia memilih memberikan ruang kepada generasi berikutnya untuk menawarkan gagasan, inovasi, dan arah pembangunan baru bagi Golo Mori.
Di tengah meningkatnya dinamika politik desa menjelang Pilkades, sikap legawa yang ditunjukkan petahana diharapkan dapat menjadi contoh bagi seluruh kontestan dan pendukung agar tetap menjaga persaudaraan serta menjadikan demokrasi sebagai sarana memperkuat persatuan masyarakat.**





Tinggalkan Balasan